The one

Ketika Ego menjadi penguasa absolut

Memperingati tanggal 6 Juni

Posted by parikesit on June 4, 2009

Hari Ulang Tahun Bung Karno

Untuk memperingati Hari Ulang Tahun Bung Karno pada tanggal 6 Juni akan disajikan tulisan khusus untuk mengenang keagungan sosok pemimpin terbesar dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam menentang kolonialisme Belanda, dan memimpin perjuangan untuk merebut kemerdekaan, serta perlawanan terhadap imperialisme yang dikepalai oleh AS.

Tulisan tersebut akan merupakan dukungan terhadap segala macam kegiatan (besar maupun kecil-kecilan) oleh berbagai kalangan dalam masyarakat, untuk memperingati Hari Ulang Tahun bapak bangsa dan guru besar revolusioner rakyat ini. Sebab, dalam situasi menjelang pemilihan presiden RI yang akan diadakan bulan Juli yad, ketika seluruh bangsa sedang bertanya-tanya dan mencari-cari sosok kepemimpinan yang paling tepat untuk membimbing rakyat menuju perubahan besar, maka mengangkat kembali tinggi-tinggi ajaran revolusioner Bung Karno adalah salah satu jalan untuk menunjukkan arah yang diperlukan bangsa. Tulisan ini akan disiarkan (dalam website dan juga di berbagai milis) menjelang tanggal 6 Juni yang akan datang.

A. Umar Said

BUNG KARNO BELAJAR PENCA (SILAT)

Diterjemahkan oleh M. Fadilah

Sumber Mangle No. 799 / 1981

Ketika kejadian sumpah pemuda 28 Oktober 1928, para tokoh pemuda pejuang bangsa Indonesia yang berada di Bandung banyak yang belajar maenpo (silat). Tidak heran sebab silat selain alah satu kebudayaan bangsa, juga merupakan ketrampilan yang besar manfaatnya untuk menjaga diri. Banyak macam silat di daerah sunda namun dari sekian macam-macam silat namun hanya ada satu silat yang dapat mengungkapkan rahasia tenaga yang berasal dari Cianjur yang dipimpin ajengan RH Ibrahim yang hidup antara th 1840 sampai th 1900 dengan nama silat Cikaretan. Salah seorang muridnya yang berbakat dan disayang yaitu Nampon, bahkan setelah RH Ibrahim meninggal, tinggal Nampon yang meneruskan silat Cikaretan.

Mengadu Kekuatan

Nampon mengajarkan ilmunya di daerah Ciburial Padalarang. Semenjak itulah silatnya disebut silat Nampon. Dalam pengajarannya dilakukan secara sembunyi-senbunyi agar supaya tidak diketahui oleh Belanda. Pada waktu itu di Bandung ada pendekar yang bernama Tamim Mahmud yang tinggal di Jl. Kopo. Dia sudah berguru dibeberapa perguruan silat dan sudah lazimnya pada waktu itu para pesilat sering mengadu kekuatan. Tamim Mahmud juga sudah menjajal kemampuannya ke beberapa pendekar silat, tetapi tidak ada yang mampu mengalahkan dia. Kebetulan pada waktu itu dia mendengar kabar di daerah Padalarang ada perguruan silat yang berbeda dari yang lain. Tidak ditunggu-tunggu lagi, dia menemui Nampon di perguruannya. Namun bagaimana adu kekuatan berlangsung tidak ada beritanya, yang didapatkan adalah Tamim Mahmud menyerah kalah kepada Nampon. Demikian luar biasa ampuhnya silat nampon, bagaimana tidak setiap Tamim Mahmud mendekati musuhnya, dia sudah jatuh duluan. Beberapa kali dia jatuh, bangun lagi sambil memasang kuda-kuda, tetapi setiap menerkam atau memukul lawan dia jatuh lagi jatuh ladi. Sampai akhirnya Tamim Mahmud mengakui kekalahannya bahkan selanjutnya berguru pada Nampon.

Pada tahun 1937, Bapak Nampon mengajarkan ilmunya tidalk lagi di Padalarang tetapi pindah ke jalan Kopo tempatnya Tamim Mahmud. Pada waktu itu perguruan sudahmenggunakan nama Tri Rasa dengan murid-muridnya kebanyakan dari kalanganmahasiswa.

Bung Karno dan Moh. Natsir

Mahasiswa yang belajar silat ditempat itu kebanyakan mahasiswa THS, Siswa KweekSchool, AMS MULO, Arabach Scholl, HBS dan OSVIA. Pada wakatu itulah Bung Karnodan Moh. Natsir belajar silat. Namun apa maksudnya Bung Karno belajar silat apakahhanya untuk mengisi waktu saja atau sengaja untuk menjaga diri. Namun yang jelasdia belajar silat bahkan mampu sampai mengeluarkan tenaga dalam. Tokoh lainnyayang belajar TRIRASA di antaranya Gusti Husaini ( sekarang dokter spesialis mata),Syarif Jaya (sekarang dokter di jalan Pungkur) dan Dr Muryani, semua muridnyatersebar di beberapa tempat, begitu menurut keterangan Yusuf Teja Sukmana, putera tunggal Pak Tamim Mahmud (alm).

Posted in 62007 | Leave a Comment »

Tulisan selanjutnya

Posted by parikesit on June 1, 2009

Ketiak basah dan pemanasan global, apa hubungannya?

Ketiak basah dan pemanasan global, apa hubungannya?

My Next Writing, akan berjudul demikian. Selamat menunggu posting saya selanjutnya.

Posted in 62007 | Leave a Comment »

Kembali ke Tradisi

Posted by parikesit on June 1, 2009

Sejatinya, semakin banyak perancang produk kebutuhan manusia yang kebingungan memikirkan ide produk baru yang bakalan boom di pasar. Alih-alih modernisasi, mereka malah memikirkan kehidupan mereka di masa kecil, dengan kesederhanaan dan kebersahajaan. Contoh paling sederhana adalah untuk masuk rumah, dimana kita harus mengetuk pintu dulu. Bahkan bagi kakak kita yang pulang larut, habis nonton layar tancep, mereka harus ketuk2 pintu dulu, dan menunggu sampai orang tua kita bangun, membukakan pintu. Sangkil, karena orang tua tahu pasti, anggota keluarganya sudah berada di dalam rumah semua. Mangkus, karena tidak perlu lagi penggandaan kunci, dan resiko kehilangan kunci, seperti kunci rumah masa kini, yang seringkali digandakan untuk masing-masing anggota keluarga.

Sepertinya, tradisi tersebut menjadi pemikiran bagi sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan pengaman terkemuka di dunia. Mereka memaparkan ide dasar dalam advertorial mereka, bahwasanya tidak setiap pintu rumah terbebas benar dari intaian. Bisa saja kunci telah diduplikasi tanpa sepengetahuan, atau hilang di suatu tempat hingga jatuh ke tangan yang salah, sebelum sempat sang empunya rumah mengganti dengan yang baru. Akhirnya, mereka menciptakan produk kunci dengan fasilitas, yang apabila difungsikan, pintu rumah dimaksud tidak akan dapat dibuka dari luar, baik menggunakan kunci duplikat apapun, bahkan oleh kunci asli sekalipun.

Produk tersebut kebetulan baru saya baca dari kertas koran pembungkus nasi sarapan saya, tertanggal 18 Februari 2009. Membacanya, membuat saya langsung teringat masa remaja saya, ketika mengharuskan saya pulang malam, dan harus membangunkan orangtua saya terlebih dahulu, sehingga salah satu dari mereka membukakan pintu. Orangtua saya bisa memastikan secara visual, kondisi fisik saya baik-baik saja setelah pulang terlambat. Hal ini tidak akan terjadi manakala setiap angota rumah memiliki kunci, dan bisa pulang sekaligus masuk rumah, kapanpun mereka mau, kalau perlu tanpa sepengetahuan orang rumah.

Mengomentari MasterLock “Nightwatch DeadBolt” yang tertulis di Klasika KOMPAS, tertanggal 18 Februari 2009. Mereka menuliskan sub judul advertorial tersebut, meningkatkan Pengamanan Kunci di Rumah. PT Tunas Wijaya Sakti 021-3900217, fax: 021-3900219 e-mail: tunas(et)cbn.net.id

Posted in 62007 | Leave a Comment »

Don Juan dari Dengok Pinggiran (Bagian Ketiga)

Posted by parikesit on May 26, 2009

Ada satu cerita menarik tentang rumah besar peninggalan Mbah Dawoed Hardjosoewito di Dengok yang bisa aku ceritakan. Mbah kung memiliki rumah besar dari kayu jati, dengan 6 kamar, dan langit2 yang luar biasa tinggi. Sepertinya ada 8 meter tinggi atapnya dari lantai. Jikalau dipasang eternity, aku memperkirakan ketinggiannya tidak kurang dari 4 meter dari lantai. Rumah dengan design sederhana, berbentuk persegi panjang, dengan luas bangunan lebih kurang 400m2. Pakdhe ku, pernah bercerita, bahwa bagian rumah tersebut pernah di bom dari udara, dan meninggalkan lubang besar menganga. Cerita yang sungguh menarik, apalagi bila dihubungkan dengan posisi dan kemampuan Mbah Dawoed hardjosoewito di BPM. Konon peristiwa tersebut terjadi pada masa PD2. Dugaan sementara, posisi strategis mbah dawoed di BPM, sudah bocor di tangan musuh. Semua data beliau sudah berada di tangan mereka, dan rencana pembunuhan pun dilancarkan oleh lawan. Kemungkinan, pihak Jepang lah yang melakukan pemboman ke rumah tersebut, untuk lenyapkan keberadaan Mbah Dawoed Hardjosoewito, sekaligus sebagai upaya sistematis untuk melemahkan potensi2 ekonomi strategis Belanda. Sayangnya, dugaan ini sangat-sangat tidak valid, karena tidak ada satupun (pihak maupun dokumen) yang bisa memberikan klarifikasi.

Keberadaan rumah besar Mbah Dawoed di desa Dengok Pinggiran, ternyata juga melahirkan perkiraan baru dan pemahaman sementara tentang beliau. Sebagai pribumi yang memainkan peran strategis di BPM, boleh jadi menimbulkan friksi. Pertama, status pribumi, sepertinya sangat sulit untuk menyamakan dengan bangsa mereka. Apalagi dengan taraf pendidikan Mbah Dawoed yang sedemikian (Baca bagian kedua). Kedua, kemampuan Mbah dawoed sangat mahal sekaligus strategis nilainya bagi BPM. Tetap memakai Mbah Dawoed, bagi BPM adalah keuntungan besar, tapi juga sekaligus menimbulkan kecemburuan di kalangan pegawai strategis mereka.

Jamaknya, pejabat atau kita sebut saja ahli strategis, akan ditempatkan dan juga diberikan fasilitas secara ”terlindung” dan terjaga di sebuah kompleks. Daerah cepu, semenjak BPM sudah merupakan kilang minyak strategis, lengkap dengan perumahan bagi kalangan pejabat dan ahli2nya. Seharusnya, kalau mengingat posisi mbah Dawoed, beliau seharusnya tinggal di daerah kompleks perumahan BPM. Tapi beliau malah membangun (atau di bangunkan, tidak tahu pasti), sebuah rumah besar di tepian bengawan solo?? Kalau lah ini bukan merupakan keputusan pribadi Mbah Dawoed untuk memiliki Rumah diluar kompleks, dugaan sementara lainnya adalah bentuk BPM dalam ”menyembunyikan” team strategisnya, dengan membaurkannya dengan rakyat biasa. Umumnya, kalau benchmark dengan para Pejabat PERTAMINA sekarang, hanya orang2 strategis dan di jabatan atas saja di PERTAMINA yang memiliki asset besar milik pribadi diluar kompleks perumahan PERTAMINA. Mbah Dawoed, memiliki asset besar (saya bilang demikian) diluar kompleks fasilitas BPM, so, apakah beliau pejabat strategis di BPM dengan status sangat dilindungi dan rahasia? Wallahu a’lam.

Kini, rumah tersebut masih ada dan ditinggali oleh Budhe. pakdhe, dan beberapa sepupuku. Setiap kali luapan Bengawan Solo, dipastikan, rumah ini selalu terendam, walaupun pondasi rumah cukup tinggi (apalagi kalau dibandingkan dengan rumah2 sekitar), lebih kurang satu meter dari permukaan tanah.

Posted in 62007 | Leave a Comment »

Don Juan dari Dengok Pinggiran (Bagian Kedua)

Posted by parikesit on March 25, 2009

Bagian kedua dari tulisan berjudul sama ini tidak tahu akan saya selesaikan sampai berapa bagian. Yang pasti, akan saya sampaikan secara bertahap, sesuai dengan apa yang saya ingat dan saya catat. Selamat menikmati.

Dari menambang pasir inilah, dari cerita pakdhe dan budheku, nasib mengubahnya menuju kegemilangan. Secara tidak sengaja, Dawoed remaja mengenal perbedaan pasir yang mengandung minyak dengan yang tidak. Sampai disini, aku tidak mendapatkan cerita yang lebih detil lagi, termasuk bagaimana ceritanya sampai Mbah kakung ku itu bisa masuk ke jajaran team pencari sumber minyak untuk perusahaan minyak Belanda kala itu (Mestinya Batavia Petrolium Maskapijt, karena perusahaan minyak Belanda waktu itu hanya BPM ini. Ada lagi yang sebelumnya, Koninklijke, yang ini badan usaha dari Royal Dutch. Sementara, untuk tempat pastinya dimana perusahaan tempat Mbah Dawoed berkiprah, masih terus coba ditelusuri. Tapi untuk tulisan ini, saya memakai BPM saja untuk mempermudah, dan akan direvisi, setelah ada pembuktian lebih lanjut. Trims ). Bukti otentik dari cerita ini juga belum bisa kudapat. Walaupun, sedikit flash back nih, sesaat setelah mbah kakung ku ini sedo, almarhum bapak dan aku membongkar “peti harta” mbah kung, dan menemukan album2 foto kuno tentang kilang minyak di jawa, sumatera, dan Kalimantan, tapi tanpa adanya gambar mbah kakung ku ini dalam satu frame dengan gambar kilang minyak itu, sangat kurang meyakinkan untuk memberikan bukti valid tentang posisi mbah kung di BPM kala itu. Lebih sayang lagi, aku juga tidak tahu lagi keberadaan foto2 kuno itu sekarang.

Perkiraanku, mbah kakung ku kala itu memiliki posisi yang sangat strategis bagi Belanda, dalam menemukan sumber2 minyak bumi baru yang mampu menjadi sumber devisa bagi Kerajaan Belanda. Pribumi, memiliki kemampuan yang bisa mendatangkan gulungan Gulden, pasti membuat BPM tidak segan untuk memberikan bayaran yang setimpal. Mungkin buat BPM, bagaikan mendapat durian runtuh, memperoleh seorang warga pribumi, dengan kemampuan penting, yang bila itu dimiliki oleh orang asing atau warga Nederland misalnya, akan menuntut bayaran se alaihim. Mirip kondisi sekarang, dimana Tenaga Kerja Asing di Indonesia dihargai jauh lebih mahal. Orang asli Hindia Belanda, ternyata ada yang memiliki kemampuan alami menemukan sumber2 emas hitam.

Jikalau memungkinkan, ingin rasanya suatu saat nanti aku mencari dokumen di kuno BPM yang berkaitan dengan Mbah Kakungku. Yang kutahu, Belanda memiliki tradisi pengarsipan yang cukup bagus. Barangkali, sedikit meluangkan waktu berjalan-jalan di Arsipnas, Pasar Minggu, akan memberikan secercah dokumen otentik tentang kiprah seorang Dawoed Hardjosoewito di masa penjajahan Belanda. Well, mungkin anda mencemoh, karena saya ternyata keturunan seorang pribumi yang lebih memihak kepada Penjajah. Tapi boleh dunk, aku membela diri, karena dari informasi yang aku dapat dari pakdhe dan Budheku, Mbah Dawoed hardjosoewito bahkan tidak pernah menyelesaikan Sekolah Rakyatnya. Sehingga, kalau masalah keberpihakan dipertanyakan, bolehjadi di masa itu, beliau tidak memikirkan. Yang pasti adalah, Mbak kakkungnu bekerja untuk BPM untuk menghidupi diri dan keluarga. Titik. Nasionalisme, waahh, kayaknya waktu itu hanya punya anak2 STOVIA deh. Hehehehe.

Tapi yang jelas, nyaris setiap warga asli desa dengok pinggiran, pasti mengenal jelas nama dawoed hardjosoewito, sebagai orang yang dulunya memiliki tanah paling luas di desa dengok, dan rumah paling megah disana. Dari ingatanku, mbah kakungku memiliki koleksi beberapa barang yang boleh dikata cukup mewah pada masanya. Beliau memiliki dua buah Gramophon (yang biasanya hanya kulihat di gambar saja) dengan model yang berbeda. Karena itu juga, seringkali aku menemukan piringan hitam, yang berisikan langgam keroncong dan juga lagu2 Belanda. Sayang, waktu itu aku masih kecil dan tidak memperdulikan nilai historik dari koleksi mbah kakungku itu. Piringan hitam yang kuyakin sudah sangat langka itu, seringkali menjadi bahan permainan sepupu2 ku yang lebih besar, dan ada yang menjadi hiasan dinding dengan cara dipaku. Sayang ya.

Posted in 62007 | Tagged: | 1 Comment »

Sang Gembel Milyarder

Posted by parikesit on March 23, 2009

Kayaknya baru kali ini aku pengen nulis soal film yang kemasannya India, Bahannya India asli, tapi kokinya, Orang Inggris. Jadilah aku kayak nonton clip musik, tapi pake cerita dan lebih lama dari sebuah clip, maklum, 120 menit. Danny Boyle, koki film ini, adalah sutradara yang belum lama malang melintang di jagad film laris, tapi semenjak Transporter menjadi tontonan alternatif bak-bik-buk selain sequel James Bond, maka nama dia semakin menanjak. Belakangan, tak baca dari Kapanlagi, Pakdhe Boyle sudah ditawari untuk membesut sequel James Bond selanjutnya.

Well, seperti tak bilang diatas, nonton film ini kayak nonton clip musik. Gambar2 nya enak dilihat, padahal kalau diamati sebener-benernya, lokasinya sebagian besar merupakan kawasan kumuh di Mumbai. Tapi berkat DOP nya yang ciamik, dia menebarkan nuansa sephia dalam nyaris keseluruhan gambar , nyaris aku ndak menemukan paduan warna hijau, kuning, hitam, yang bisa bikin neg, kala melihat kawasan kumuh. Daerah yang penuh dengan sampah, di frame dengan angle yang enak di mata, trus relatif adhem.  Yang ada adalah warna biru, kuning, merah, sampah2 yang bertumpuk dan menjadi latar belakang, berpadu dengan tempo lambat- cepat, dan juga alur flashback yang sauprit-sauprit dalam pengambilan gambarnya.

Soal ceritanya, waah, biasa saja dan relatif sederhana. Adaptasi dari novel Vikas Swarup, kata TEMPO, berhasil mendongkrak penjualan novel aslinya, setelah film ini memenangi 8 penghargaan Oscar. Novel dengan sampul yang sama dengan poster filmnya terjual 35 ribu kopi hanya dalam satu setengah bulan, tulis TEMPO. Disini, aku gak usah banyak menuliskannya, karena bisa dibaca di situs pak anggriawan atau di Wikipedia saja ya. Di Google juga bertebaran kok.

Dalam film ini, kita bisa mempertanyakan, sebesar apa kejujuran itu dinilai. Terus kalau yang pasti, yah cerita keberuntungan yang luar biasa dari seorang anak manusia. Lha wong sedari kecil dia selalu menderita dan mengalami berbagai kisah yang menyedihkan dan kayaknya meninggalkan bekas trauma yang cukup dalam, sehingga dia bisa ingat setiap detil cerita masa lalunya. Lha kok ndilalahnya,   dalam ajang WWTBM India yang di Host oleh Prem Kumar (Anil Kapoor), setiap pertanyaan yang diajukan, itu seiring sejalan dengan perjalanan kisah hidupnya yang pait.Sebut saja ketika jawaban pertanyaannya adalah Amitabachan, dan itu merupakan pengalaman masa kecilnya, ketemu Amitabachan (Di film ini hanya terlihat tangan dan heli-nya saja), dapet tandatangannya tanpa ngantri, setelah nyebur di kubangan “maaf“, tinja, lalu foto bertandatangan Mr Bachan itu dijual kakaknya. Belum lagi waktu ditanya gambar dalam pecahan $100 Amerika, yang dapat dijawab dengan mudah, karena pengalaman yang mendalam ketika ketemu teman yang buta (karena sengaja dibutakan oleh Germo pengumpul anak2), dan juga karena aktifitas dia di Taj Mahal, sebagai guide, yang mendapatkan upah berupa dollar Amerika. Trus pertanyaan apa yang dipegang dewa anu(siapa ya.. saya lupa…), yang akhirnya dijawab dengan ingatan jelas, ketika ibunya dianiaya oleh segerombolan orang, karena masalah Agama, dan dia harus melarikan diri bersama kakaknya, dan kebetulan, di setiap jalan pelariannya kok ya menemukan dewa itu. Yang paling seru, kayaknya waktu Salim menjawab pertanyaan terakhir. Senyum mengembang, karena ingatannya melayang ke masa perkenalan pertamanya dengan Latika, dan dilempar guru sekolahnya dengan buku yang menceritakan tentang jawaban pertanyaan yang diajukan dalam akhir WWTBM itu.  Adapaun kalau dia akhirnya disiksa polisi, saya pikir karena host Prem Kumar yang malu, karena ngasih jawaban, tapi salim menjawab tidak sesuai dengan jawaban itu.

Tapi tetap, saya menangkap sindiran2 halus dalam film ini. Misalnya saja, ketika Salim ditanya Inspektur Polisi (Irfan Khan), kenapa Salim bisa tahu gambar siapa di pecahan $100 Amerika, tapi tidak tahu siapa dalam pecahan 100 Rupee.  Ada pesan halus, dimana nasionalisme India, yang mulai meluntur, berganti dengan keekonomian global yang dimotori negara Paman Sam. Masih ada lagi, kalau melihat siapa pembuat film ini, maka saya dengan mudah menyimpulkan, inilah jawaban industri perfilman Inggris, untuk melawan banjir film2 Bollywood. Tidak dengan melawan, tapi dengan merangkulnya. Toh, Poundsterlingnya nggak lari ke India khan? Lalu mengenai keberuntungan yang bertubi-tubi, tapi masih tetap realistis, karena Salim juga sempat lupa.

Bagi yang nggak suka film India, kalau pengen nonton film ini nggak usah terlalu khawatir akan suguhan “tarian di segala suasana”. Gaya klasik film Bollywood ini hanya ditemukan di ending cerita saja, setelah Salim ketemu Latika di Stasiun Kereta Api. Tapi tabuhan kendang India, cukup mantab digeber di setiap scene yang sesuai. Juga romantisme Salim karena sudah putus asa mencari Latika, kemudian ikut WWTBM, sebagai ajang untuk mencari Latika. Mungkin kalau Danny boyle membuat Salim akhirnya kehilangan uang kemenangan akhirnya, karena ketika Salim memakai fasilitas terakhirnya Phone a Friend dan menemukan suara Latika di nomor HP kakaknya, maka jawaban dari niatan salim ikut WWTBM sudah terjawab dan film langsung selesai, akan lebih sederhana lagi. Tapi ternyata dia memilih double happy ending, dengan salim ketemu Latika, dapet hadiah pula. Selebihnya, saya menganggap, ini film kampanye Visit Mumbai 2009, karena eksploitasi kenyatan sebuah India, dalam sebuah film yang enak sudut pandangnya, lengkap dengan potret kemiskinan, dalam frame yang indah, sehingga kita nggak merasa jijik apalagi jengah dengan sajian potret kemiskinan itu.

Kata Kapanlagi.comPengamat industri film menyatakan, film yang mengangkat tema sosial dari Mumbai, SLUMDOG MILLIONAIRE, yang menghabiskan ‘hanya’ US$15 juta untuk pembuatannya, kini telah meraih pendapatan total sebesar US$217 juta.

Kata parikesit.wordpress.com: kalau ke India, jangan lupa pake kacamata biar adhem melihat kekumuhan yang realistis di India sana.

Posted in 62007 | 1 Comment »

Don Juan from Dengok Pinggiran (Bagian Pertama)

Posted by parikesit on March 17, 2009

Tulisan kali ini sebenarnya lebih bersifat pribadi. Namun sengaja saya share melalui blog ini, untuk memberikan pembelajaran tersendiri mengenai hidup. Bahwasanya yang akan saya tulis ini merupakan rentetan kisah manusia, yang notabene adalah Mbah kakung saya sendiri. Semata-mata bukan untuk memperbesar apalagi mengekspos sisi negatif mereka2 yang sudah meninggal, namun inilah sejarah, dan menjadi bagian sejarah tak terpisahkan dari keberadaan saya sampai saat ini. Juga menjadi suatu pedoman pribadi, tentang bagaimana saya menyikapi tentang poligami, dan termasuk di dalamnya kawin sirri.

Raden Dawoed Hardjosoewito, adalah kakek saya dari pihak bapak. Sayangnya, tidak ada satupun data pasti tentang kapan beliau lahir. Pastinya, beliau adalah anak dengok, yang suka mencari pasir bengawan solo. Entah aktifitas itu sebagai mencari sesuap nasi ataukah sekedar permainan, saya kurang faham betul. Tapi beliau bersama adiknya, Idrus, merupakan pencarai-pencari pasir di tepian Bengawan Solo.

Posted in 62007 | Tagged: | Leave a Comment »

Mak jegagik, Diambung Jaran

Posted by parikesit on February 24, 2009

Nalika aku mlaku-mlaku nyang Malioboro, aku duwe pengalaman lucu tur nganyelke. Aku meh wae diambung jaran ning Malioboro. Iyo, meh diambung jaran sing narik andhong kui! Dadi ngene ceritane. Aku kan mlaku ning sisih tengen dalan Malioboro, gara-gara lorong kono kuwi kebak wong dodolan, aku mlaku nyang jalur lambat, jalure becak, pit onthel, lan andhong. La kok ndililahe aku lagi rada ra nggathekake dalan, mak jegagik ana jaran mengo nyang ngarep raikul. Mung sak nyuk-an nek aku ora owah, aku mesti wis diambung tenan. Bayangke wae lambe jaran sing genyir-genyir umbelen ngono kae kena raimu. Lak yo kojor to ya? Pengalaman (meh) diambung jaran kui uga dadi salah siji pengalamanku sing ora dak lalekne ning Jogja.

Sebuah situs blog yang sepertinya cukup baru, tapi luar biasa bisa bikin aku ngakak membaca isinya. Maaf nih, buat yang nggak ngerti bahasa jawa. Tapi lebih kurang terjemahannya begini:

Ketika aku sedang jalan2 ke Malioboro, aku punya pengalaman lucu dan bikin kesal. Hampir saja aku dicium kuda di Malioboro. Ya, kuda yang biasa narik andhong itu.

jadi begini ceritanya. Aku sedang berjalan di sisi sebelah kanan jalan Malioboro. Gara2 lorong itu penuh dengan orang berjualan, saya berjalan di jalur lambat, jalur untuk becak, sepeda, dan andhong. Lha kok sialnya aku nggak merhatiin jalan, mak jegagik (saya nggak tahu padanan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, maaf) ada kuda noleh tepat di depan mukaku. Tinggal sepersekian senti saja aku bergerak, aku pasti sudah tercium beneran.

Bayangkan saja, bibir kuda yang selalu basah beringus mengenai mukamu? Lak yo kojor to? Pengalaman nyaris dicium kuda itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan di Jogja.

Memang gaya bahasanya mirip anak SD sedang belajar mengarang bahasa Jawa. Tapi buatku, tulisan ini kayak oase kultural, yang sangat menyegarkan jiwa. Bagaimanapun juga, darah jawa yang ada di dalam tubuhku, tetap akan selalu mencari asal mulanya.

Di situs berikut, anda bisa membacanya sendiri. Disini

nb: Tulisan ini untuk mangayubagya keinginan istriku tersayang yang pengen ke Jogja, karena seumur hidup belum pernah jalan2 ke Jogja. Gaya Backpacker atau Koper Sweety.

Posted in 62007 | Leave a Comment »

Tertinggalnya celana dalam di gunung salak

Posted by parikesit on February 22, 2009

Apa yang anda rasakan, ketika masuki ke sebuah kamar mandi, dan anda menjumpai celana dalam tersampir dengan indahnya. Mungkin sebagian akan merasa jengah dan neg, sementara yang lain ada yang malah menjadikannya sarana “berfantasi”. Terserah bagaimana anda saja. Tapi buat saya, jengah, neg, dan campur gedeg, kalau menjumpai situasi tersebut. Ghalibnya, seseorang yang telah menggunakan kamar mandi tersebut kemudian meninggalkan “barang” (apalagi yang seharusnya dikategorikan tersembunyi), pastinya kalau tidak karena alpa pasti karena teledor. Masalahnya baru muncul, ketika fasilitas publik dalam operasionalnya masih meninggalkan jejak pakai pengguna terdahulunya, yakni terjadinya pelanggaran hak pakai. Jelas, pelanggaran harus dikenakan sanksi, entah moral maupun denda material (Dan sebaiknya hal itu disadari sebagai sebuah konsekuensi dari keteledoran yang mengganggu kenyamanan orang lain). Dampak dari tertinggalnya celana dalam di kamar mandi, akan beragam. Bagi pelaku, umumnya baru merasa kehilangan setelah beberapa waktu kemudian. (baru nyadar kalau ada barangnya yang raib). Jelas dia rugi karena stock pakaian dalamnya berkurang tanpa alasan yang memuaskan (alasan lupa kebanyakan dinilai mengecewakan). Akan tetapi, kerugian ini bakal berbuah rentetan kerugian dari pengguna kamar mandi berikutnya. Berkurangnya space gantungan baju di kamar mandi misalnya. Jamaknya, orang mandi pasti melepas pakaian dan kemudian menyantelkannya di tempat yang strategis (terhindar dari cipratan air atau bahkan terguyur). Jikalau space cantelan (lagi-lagi di fasilitas publik, yang namanya cantelan relatif minim) sudah terpakai secara tidak sengaja oleh celana dalam yang tertinggal, niscaya resiko jatuhnya pakaian akan semakin besar. Belum lagi gangguan bau (jikalau celdam itu mengandung aroma khas) yang umumnya sangat-sangat mengganggu pernafasan dan kenyamanan dalam menjalankan ritual mandi. Berikutnya, pandangan mata, akan menjadi elemen yang paling mendapatkan friksi disaat berada dalam posisi siap mandi. Salah-salah, hanya karena ada terasa nyempil di pandangan mata inilah yang bakalan mengaburkan lagi niat kukuh sesorang untuk mandi di kamat mandi itu. Kabur….rrrrr. Walhasil, menempatkan celana dalam secara tidak sengaja di kamar mandi, lebih banyak mendatangkan efek merugi. Apalagi jikalau dilakukan secara sengaja dan tertinggalnya di puncak gunung salak sana (Wadduh). Untunglah wa syukurilah, belum ada satupun produsen celdam yang memiliki ide untuk mempromosikan produk terbarunya dengan menggantungkan sampel di kamar mandi (apalagi di kamar mandi umum). Meskipun unik, ide ini rasanya sangat tidak efektif dan cenderung mengganggu. Lebih baik mereka memperagakannya di atas catwalk, seperti yang biasanya dilakukan Victoria Secret (kemudian di shoot Fashion TV) saat mereka meluncurkan produk pakaian dalam terbaru mereka. Bakal lebih banyak lagi mata pria yang jelalatan untuk kemudian berinisiatif untuk membelikan produk baru tersebut. Untuk siapa? Terserah, bisa untuk istri, pacar, selingkuhan, atau bahkan untuk dipakai sendiri (Wakakakak)

NB: Salah satu cara menarik perhatian pembaca adalah memberikan judul tulisan yang eyecatching dalam tulisan kita. Ini yang sedang saya lakukan dalam tulisan kali ini. Tadinya saya mau hubungkan dengan para 7 pendaki Universitas Yarsi yang tempo hari menghilang di Salak dan merepotkan semua pihak. Padahal mereka baik-baik saja, dan hanya malas untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga mereka masing-masing. Tapi ya sudahlah, nanti saja dibahasnya di postingan yang berbeda.

Posted in 62007 | 1 Comment »

Mari berbahasa lempar sepatu

Posted by parikesit on February 3, 2009

Sudah sekian lama ndak punya amunisi buat loading kembali blog ini, akhirnya baru sekarang. Walaopun di rumah ada laptop tapi nulis isi blog dari luar rumah, serasa lebih banyak punya serpihan ide buat membentuk amunisi yang benar-benar ampuh untuk di tayangkan di blog.  Secara umur, blog ini punya sejarah lumayan lama, bahkan pernah menjadi footnote dari setiap email saya di yahoo, maka sudah seharusnya saya juga menghargai keberadaan blog ini dengan menuliskan berbagai hal, baik atau buruk ndak masalah wong namanya blog saya pribadi.

Sebenarnya, yang bikin saya ndak nulis-nulis adalah kebingungan, apakah dalam tulisan di blog saya ini sudah menggunakan bahasa yang termasuk baik, bahasa yang benar, atau bahasa yang baik dan benar? Sudah bingung, masih ditambah lagi kemalasan tingkat tinggi saya untuk merunut kembali, apakah sesungguhnya pengertian bahasa yang baik dan pengertian bahasa yang benar tersebut. Jadilah, ndak nulis-nulis apapun…….
Kata banyak orang, kita orang Indonesia ini dibenturkan pada dua masalah kebahasaan: ketepatan kaidah, serta ketepatan situasi dan kondisi dalam berbahasa. Ketepatan kaidah berkaitan dengan tata bahasa, sedangkan ketepatan situasi dan kondisi berbahasa berkaitan dengan prinsip komunikasi – dengan siapa kita berbicara, kepada siapa kita berbicara, dalam keadaan apa kita berbicara, plus untuk kepentingan apa kita berbicara.
Bahasa yang bener, idealnya fardlu a’in taat kaidah. Sang pembahasa, harus memenuhi semua komponen, mulai dari ketepatan kaidah tata bahasa, intonasi, serta ekspresi. Yang barusan saya tulis, umumnya dilakukan dalam situasi formal yang cenderung kaku dan bersifat satu arah dalam situasi lisan ( sebuah pidato misalnya)
Lalu, bahasa yang baik selalu menilik kesesuaian situasi dan kondisi pembicaraan. Baik saat berbicara atau menulis, kita akan menyesuaikan bahasa dan cara berbicara atau menulis kita dengan yang diajak bicara dan situasi serta kondisi pembicaraan. Misale saja, kita ndak mungkin berbahasa ilmiah dengan seorang anak TK, trus nggak pake bahasa Indonesia yang baku di buku harian, atau Pak Beye pasti ndak akan berbahasa “gaul” saat berpidato (Secara beliau itu presiden gitu).
Lalu semakin sulitkah kita berbahasa yang baik dan benar kalau demikian panjang penjabaran tetek bengeknya? Satu tips saja, gunakan bahasa sesuai dengan sikon. Tulisan ilmiah adalah salah satu bentuk kebahasaan yang menggunakan bahasa yang baik dan benar. Presentasi, seminar, lokakarya, simposium, dan sejenisnya adalah juga bentuk-bentuk kebahasaan yang menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Kalau kita termasuk yang mampu menyampaikan bahasa kita kepada orang lain dan mampu diterima lawan bicara kita dengan gamblang, berarti kita sudah bisa dianggap berbahasa yang benar (Dan juga kita termasuk kaum dengan peradaban yang lebih tinggi, karena hanya mereka yang mau dan sempet menterjemahkan rangkaian vokal dan konsonan serta mencari padanan maksud dengan tata cara bahasa yang sudah umum). Trus jikalau sudah mencapai tahapan tersulit dalam berbahasa yang baik dan benar bagaimana? Well, banyak cara, misalkan dengan bahasa Tarzan, bahasa isyarat tangan, atau dengan cara yang lebih ekstrim lagi. Melempar sepatu ke muka orang misalnya, itu juga termasuk cara berbahasa, meskipun itu sudah jauh dari kaidah baik dan benar.

Makanya, daripada pusing nggak nulis-nulis, trus nggak bisa melempar sepatu, ya saya nulis saja seenak saya. Hehehe.

nb: Mengomentari Tragedi lempar sepatu terhadap PM China Wen Jiabao di Universitas Cambridge Inggris dan In Memoriam Bush dan sepatu wartawan Irak.

Posted in 62007 | Leave a Comment »