Hari Ulang Tahun Bung Karno
![]()
Untuk memperingati Hari Ulang Tahun Bung Karno pada tanggal 6 Juni akan disajikan tulisan khusus untuk mengenang keagungan sosok pemimpin terbesar dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam menentang kolonialisme Belanda, dan memimpin perjuangan untuk merebut kemerdekaan, serta perlawanan terhadap imperialisme yang dikepalai oleh AS.
Tulisan tersebut akan merupakan dukungan terhadap segala macam kegiatan (besar maupun kecil-kecilan) oleh berbagai kalangan dalam masyarakat, untuk memperingati Hari Ulang Tahun bapak bangsa dan guru besar revolusioner rakyat ini. Sebab, dalam situasi menjelang pemilihan presiden RI yang akan diadakan bulan Juli yad, ketika seluruh bangsa sedang bertanya-tanya dan mencari-cari sosok kepemimpinan yang paling tepat untuk membimbing rakyat menuju perubahan besar, maka mengangkat kembali tinggi-tinggi ajaran revolusioner Bung Karno adalah salah satu jalan untuk menunjukkan arah yang diperlukan bangsa. Tulisan ini akan disiarkan (dalam website dan juga di berbagai milis) menjelang tanggal 6 Juni yang akan datang.
A. Umar Said
BUNG KARNO BELAJAR PENCA (SILAT)
Diterjemahkan oleh M. Fadilah
Sumber Mangle No. 799 / 1981

Ketika kejadian sumpah pemuda 28 Oktober 1928, para tokoh pemuda pejuang bangsa Indonesia yang berada di Bandung banyak yang belajar maenpo (silat). Tidak heran sebab silat selain alah satu kebudayaan bangsa, juga merupakan ketrampilan yang besar manfaatnya untuk menjaga diri. Banyak macam silat di daerah sunda namun dari sekian macam-macam silat namun hanya ada satu silat yang dapat mengungkapkan rahasia tenaga yang berasal dari Cianjur yang dipimpin ajengan RH Ibrahim yang hidup antara th 1840 sampai th 1900 dengan nama silat Cikaretan. Salah seorang muridnya yang berbakat dan disayang yaitu Nampon, bahkan setelah RH Ibrahim meninggal, tinggal Nampon yang meneruskan silat Cikaretan.
Mengadu Kekuatan
Nampon mengajarkan ilmunya di daerah Ciburial Padalarang. Semenjak itulah silatnya disebut silat Nampon. Dalam pengajarannya dilakukan secara sembunyi-senbunyi agar supaya tidak diketahui oleh Belanda. Pada waktu itu di Bandung ada pendekar yang bernama Tamim Mahmud yang tinggal di Jl. Kopo. Dia sudah berguru dibeberapa perguruan silat dan sudah lazimnya pada waktu itu para pesilat sering mengadu kekuatan. Tamim Mahmud juga sudah menjajal kemampuannya ke beberapa pendekar silat, tetapi tidak ada yang mampu mengalahkan dia. Kebetulan pada waktu itu dia mendengar kabar di daerah Padalarang ada perguruan silat yang berbeda dari yang lain. Tidak ditunggu-tunggu lagi, dia menemui Nampon di perguruannya. Namun bagaimana adu kekuatan berlangsung tidak ada beritanya, yang didapatkan adalah Tamim Mahmud menyerah kalah kepada Nampon. Demikian luar biasa ampuhnya silat nampon, bagaimana tidak setiap Tamim Mahmud mendekati musuhnya, dia sudah jatuh duluan. Beberapa kali dia jatuh, bangun lagi sambil memasang kuda-kuda, tetapi setiap menerkam atau memukul lawan dia jatuh lagi jatuh ladi. Sampai akhirnya Tamim Mahmud mengakui kekalahannya bahkan selanjutnya berguru pada Nampon.
Pada tahun 1937, Bapak Nampon mengajarkan ilmunya tidalk lagi di Padalarang tetapi pindah ke jalan Kopo tempatnya Tamim Mahmud. Pada waktu itu perguruan sudahmenggunakan nama Tri Rasa dengan murid-muridnya kebanyakan dari kalanganmahasiswa.
Bung Karno dan Moh. Natsir
Mahasiswa yang belajar silat ditempat itu kebanyakan mahasiswa THS, Siswa KweekSchool, AMS MULO, Arabach Scholl, HBS dan OSVIA. Pada wakatu itulah Bung Karnodan Moh. Natsir belajar silat. Namun apa maksudnya Bung Karno belajar silat apakahhanya untuk mengisi waktu saja atau sengaja untuk menjaga diri. Namun yang jelasdia belajar silat bahkan mampu sampai mengeluarkan tenaga dalam. Tokoh lainnyayang belajar TRIRASA di antaranya Gusti Husaini ( sekarang dokter spesialis mata),Syarif Jaya (sekarang dokter di jalan Pungkur) dan Dr Muryani, semua muridnyatersebar di beberapa tempat, begitu menurut keterangan Yusuf Teja Sukmana, putera tunggal Pak Tamim Mahmud (alm).


