Don Juan dari Dengok Pinggiran (Bagian Kedua)
Bagian kedua dari tulisan berjudul sama ini tidak tahu akan saya selesaikan sampai berapa bagian. Yang pasti, akan saya sampaikan secara bertahap, sesuai dengan apa yang saya ingat dan saya catat. Selamat menikmati.
Dari menambang pasir inilah, dari cerita pakdhe dan budheku, nasib mengubahnya menuju kegemilangan. Secara tidak sengaja, Dawoed remaja mengenal perbedaan pasir yang mengandung minyak dengan yang tidak. Sampai disini, aku tidak mendapatkan cerita yang lebih detil lagi, termasuk bagaimana ceritanya sampai Mbah kakung ku itu bisa masuk ke jajaran team pencari sumber minyak untuk perusahaan minyak Belanda kala itu (Mestinya Batavia Petrolium Maskapijt, karena perusahaan minyak Belanda waktu itu hanya BPM ini. Ada lagi yang sebelumnya, Koninklijke, yang ini badan usaha dari Royal Dutch. Sementara, untuk tempat pastinya dimana perusahaan tempat Mbah Dawoed berkiprah, masih terus coba ditelusuri. Tapi untuk tulisan ini, saya memakai BPM saja untuk mempermudah, dan akan direvisi, setelah ada pembuktian lebih lanjut. Trims ). Bukti otentik dari cerita ini juga belum bisa kudapat. Walaupun, sedikit flash back nih, sesaat setelah mbah kakung ku ini sedo, almarhum bapak dan aku membongkar “peti harta” mbah kung, dan menemukan album2 foto kuno tentang kilang minyak di jawa, sumatera, dan Kalimantan, tapi tanpa adanya gambar mbah kakung ku ini dalam satu frame dengan gambar kilang minyak itu, sangat kurang meyakinkan untuk memberikan bukti valid tentang posisi mbah kung di BPM kala itu. Lebih sayang lagi, aku juga tidak tahu lagi keberadaan foto2 kuno itu sekarang.
Perkiraanku, mbah kakung ku kala itu memiliki posisi yang sangat strategis bagi Belanda, dalam menemukan sumber2 minyak bumi baru yang mampu menjadi sumber devisa bagi Kerajaan Belanda. Pribumi, memiliki kemampuan yang bisa mendatangkan gulungan Gulden, pasti membuat BPM tidak segan untuk memberikan bayaran yang setimpal. Mungkin buat BPM, bagaikan mendapat durian runtuh, memperoleh seorang warga pribumi, dengan kemampuan penting, yang bila itu dimiliki oleh orang asing atau warga Nederland misalnya, akan menuntut bayaran se alaihim. Mirip kondisi sekarang, dimana Tenaga Kerja Asing di Indonesia dihargai jauh lebih mahal. Orang asli Hindia Belanda, ternyata ada yang memiliki kemampuan alami menemukan sumber2 emas hitam.
Jikalau memungkinkan, ingin rasanya suatu saat nanti aku mencari dokumen di kuno BPM yang berkaitan dengan Mbah Kakungku. Yang kutahu, Belanda memiliki tradisi pengarsipan yang cukup bagus. Barangkali, sedikit meluangkan waktu berjalan-jalan di Arsipnas, Pasar Minggu, akan memberikan secercah dokumen otentik tentang kiprah seorang Dawoed Hardjosoewito di masa penjajahan Belanda. Well, mungkin anda mencemoh, karena saya ternyata keturunan seorang pribumi yang lebih memihak kepada Penjajah. Tapi boleh dunk, aku membela diri, karena dari informasi yang aku dapat dari pakdhe dan Budheku, Mbah Dawoed hardjosoewito bahkan tidak pernah menyelesaikan Sekolah Rakyatnya. Sehingga, kalau masalah keberpihakan dipertanyakan, bolehjadi di masa itu, beliau tidak memikirkan. Yang pasti adalah, Mbak kakkungnu bekerja untuk BPM untuk menghidupi diri dan keluarga. Titik. Nasionalisme, waahh, kayaknya waktu itu hanya punya anak2 STOVIA deh. Hehehehe.
Tapi yang jelas, nyaris setiap warga asli desa dengok pinggiran, pasti mengenal jelas nama dawoed hardjosoewito, sebagai orang yang dulunya memiliki tanah paling luas di desa dengok, dan rumah paling megah disana. Dari ingatanku, mbah kakungku memiliki koleksi beberapa barang yang boleh dikata cukup mewah pada masanya. Beliau memiliki dua buah Gramophon (yang biasanya hanya kulihat di gambar saja) dengan model yang berbeda. Karena itu juga, seringkali aku menemukan piringan hitam, yang berisikan langgam keroncong dan juga lagu2 Belanda. Sayang, waktu itu aku masih kecil dan tidak memperdulikan nilai historik dari koleksi mbah kakungku itu. Piringan hitam yang kuyakin sudah sangat langka itu, seringkali menjadi bahan permainan sepupu2 ku yang lebih besar, dan ada yang menjadi hiasan dinding dengan cara dipaku. Sayang ya.
whoa.. mbahkungku ternyata keren.. sayangnya bliow dah wafat bahkan saat aku lom lulus TK, jadi ingatanku cuma sbatas posturnya yang guanteng n tinggi, trus saat mudik ke Cepu selalu saja lupa ama anak, menantu, n cucunya karena usia yang sudah sangat sepuh..