Pelumas Kehidupan

Berlebihankah saya bilamana seks saya anggap sebagai pelicin sekaligus penyegar kehidupan, seperti halnya peran oli dalam melumasi mesin mobil, seperti hujan menyegarkan bumi? Kehidupan terjadi di Bumi terutama karena ada makhluk hidup, dimana anda dan saya berinteraksi di dalamnya. Dalam kurun waktu yang, entah berapa miliar tahun, kehidupan telah berlangsung di muka Bumi, sehingga mampu memunculkan perdebatan tentang umur makhluk hidup, seperti  juga tentang asal-usul dunia masih berlangsung hingga hari ini. Generasi demi generasi berganti, sehingga roda kehidupan berkembang terus.

Otomatis, dorongan hidup semakin bertahan, bahkan makin besar dari waktu ke waktu. “Apa yang membuat orang lebih memilih hidup ketimbang mati, bahkan di saat-saat teramat sulit?” Para biolog menuduh naluri hidup (life instinct) pegang peranan di sana. Psikoanalisis dengan Freud sebagai tokoh awalnya pun menunjuk itu, naluri hidup yang menggerakkan manusia untuk bertahan hidup, mendorong kita mencari cara-cara mempertahankan dan mengembangkan diri.

KamasutraAgak lompat sedikit dari topik awal, saya mencoba menulis bahwasanya pada medio 60-70 an, ada banyak sekali ragam versi Kamasutra. Sebenarnya, Kamasutra sendiri lebih dari sekedar buku dalam kategori porno. Penulis buku ini bilang, Kamasutra dan teks Ananga Ranga, The Parfumed garden, dan Tao, harus dihubungkan dengan kondisi kuno dan peradaban di awal abad  ke 20. Bahwa teks ini berhubungan dengan pusat perasaan. Jadi, bukan sekedar melakukan interaksi seksual dengan “siapapun”, tetapi pelakunya harus memiliki juga perasaan, dimana dalam berhubungan seksual tersebut, para pelakunya “harus” memperoleh rasa cinta, kenyamanan dan kehangatan antara satu sama lain. Konsep dari Kamasutra termasuk juga di dalamnya menikmati segala objek yang dapat dinikmati dengan kelima panca indra manusia, seiring sejalan dengan pemikiran dan jiwa manusia yang melakukannya. Sebuah konsep yang tentunya sangat relevan untuk menyegarkan pola pemikiran manusia masa kini dalam berhubungan dan hidup di dunia yang semakin maju ini.

 

Di paragraph awal tadi, telah saya tuliskan bahwa Naluri hidup adalah energi yang mendorong Anda dan saya bertahan hidup. Tetapi sebuah dorongan akan mendapat resistensi jika tak punya nilai positif bagi yang didorongnya. Naluri hidup adalah energi awal, penggerak awal kehidupan di planet ini. Apa lagi setelah itu? Apa yang bikin hidup lebih berharga daripada tak hidup? Mengapa sampai Anggodo mati-matian membela dirinya bahwa dia tidak bersalah, sementara Pak Bibit dan Chandra malah mengaku tidak tahu menahu perihal uang dari Anggodo itu? Lho, kok lompatnya jauh men? Yang pasti, Anggodo, Pak Bibit maupun pak Chandra, memiliki mekanisme nya sendiri untuk menjaga kelangsungan kehidupannya, termasuk ketika kehidupan pribadinya terungkit publik. Pasti ada yang menyenangkan dari hidup dan bikin kita betah. Mengapa saya mencintai hidup saya, mau bersusah payah mengisinya, bersakit-sakit mendayung menentang arus dunia yang tak selalu ramah? Mengapa Pembela Anggodo, Pak Bonaran, sangat gemar bekerja, rela berkutat dengan begitu banyak soal, bahkan kadang bersakit-sakit untuk mendapatkan sesuatu? Pasti ada yang menyenangkan di sana, ada kenikmatan yang menjaga kita dari aktivitas merusak diri.

 

Selain perlu makan dan minum, kita juga menjaga diri dari bahaya, menghindar dari hal yang menyakitkan dan merusak tubuh. Lapar, mendorong kita untuk makan, sehingga tubuh kita tegang. Ketegangan itu akan mereda setelah makan, dan berganti dengan rasa nikmat. Mangkanya wajar bilamana makan saat lapar, minum saat haus, adalah aktivitas yang menghasilkan kenikmatan. Pijatan yang melemaskan pegal di sekujur tubuh, bagaimana nikmatnya menggaruk bagian badan yang gatal, menghirup wangi meruap dari lawan jenis yang menarik, meresapi belaian sang kekasih, juga mengalun bersama lagu-lagu yang kita sukai, adalah deretan aktifitas yang memunculkan apa yang kita sebut dengan kenikmatan. Inilah kata kunci dari kehidupan, dasar pertahanan diri, motif tingkahlaku, unsur hidup yang menjaga kita tetap berharap dan bergerak ke depan. Tanpa kenikmatan, hidup hampa, bahkan menyakitkan. Siapa yang mau bertahan dalam hidup yang terus-menerus menyakitkan? Siapa yang ingin bertahan dalam kehampaan?

 

Lalu bagaimana kehidupan berlangsung dari generasi ke generasi, beragam spesies termasuk manusia bisa mempertahankan kehidupan mereka? Di sini kita baru bisa bicara tentang seks sebagai satu mekanisme penjaga keberlangsungan hidup, yang tentunya juga melibatkan kenikmatan di dalamnya. Naluri hidup juga mendorong aktifitas penyebarluasan keturunan, dengan berkembang biak. Reproduksi menjadi proses yang tak terpisahkan dari kehidupan tiap organisme hidup. Beranak-pinak, menyebar-luas, berkoloni, menghasilkan generasi baru terus menerus, merupakan fakta dari setiap spesies yang belum punah. Dan seks jadi inti semua itu.

 

Saya terpaksa memahami ‘kejenialan’ Freud dalam memahami gejala seksual. Caranya memahami manusia memberi kita dasar-dasar pemahaman seksualitas manusia secara psikologis. Seks adalah sendi kehidupan; dasar dan motif tingkahlaku manusia. Seks adalah perwujudan utama dari naluri hidup, sekaligus tak jarang juga jadi perwujudan dari naluri mati. Kedua naluri itu berperan dalam perilaku seksual manusia. Prinsip kenikmatan yang menjaga keberlangsungan usaha manusia bertahan hidup pun berlaku dalam seks. Bahkan buat Freud, justru seks inilah inti dari keberlangsungan hidup manusia. Sejak balita, sebagai makhluk pencari kenikmatan manusia sudah punya pengalaman seksual, tetapi peralatannya bukan organ genital, melainkan organ-organ lain yang dijadikan sebagai ranah aktivitas kenikmatan, seperti mulut pada bayi yang menyusu pada ibunya dan anus tempat melampiaskan atau menahan keinginannya buang air. Di sana kenikmatan-kenikmatan diperoleh balita.

Baru kemudian, sembari belajar tentang perbedaan jenis kelamin biologis, mereka menjadikan organ genital alat utama aktivitas perolehan kenikmatan, sebagai alat seksual. Namun, tidak semua orang mempertahankan organ genital sebagai alat seks utama. Karena satu dan lain hal, ada orang-orang yang lebih suka kembali atau bertahan dengan memanfaatkan mulut atau anus. Ada juga orang-orang yang mengalihkan fungsi alat seksual kepada benda-benda atau makhluk hidup lain. Ada orang yang memperoleh kenikmatan seksual dari barang-barang milik lawan jenis seperti pada para pelaku fetisisme. Ada juga yang suka berhubungan seks dengan binatang (zoophilia). Cara pelampiasan dorongan seksual pun tidak selalu melalui intercourse dengan lawan jenis. Ada orang yang mendapat kenikmatan seksual dari mengintip orang lain berhubungan badan (voyeurisme), ada juga yang terpuaskan setelah mengalami siksaan (masochisme) atau setelah menyiksa pasangan hubungan seksualnya (sado).

Keinginan mendapatkan kenikmatan dan niat memperoleh keturunan jelas didasari oleh naluri hidup. Lalu, tindakan menghentak, menghantam, merobek pada laki-laki dan kesediaan menerima hentakan, hantaman dan robekan pada perempuan didorong oleh naluri mati. Dalam perilaku seksual sado-masochisme, naluri mati dominan perannya. Aktivitas agresif dan destruktif menjadi cara penyaluran dorongan naluri mati untuk mendapatkan kenikmatan. Intinya, semuanya ingin mendapatkan kenikmatan.

 

Freud malah melakukan lompatan, dengan hipotesisnya, peradaban manusia berkembang karena seks. Apapun yang terkait dengan tingkahlaku manusia, ujung-ujungnya seks. Bagi Freud, tingkahlaku manusia cukup direduksi sebatas seks. Apa menurut pendapat anda? Kalau menurut saya, hidup manusia itu lebih berharga, bukan seks semata. Tetapi penjelasan Freud tentang bagaimana seks menjaga kelangsungan hidup manusia, cukup saya terima di akal pemikiran saya. Babhwasanya seks sebagai salah satu bagian dari penjaga keberlangsungan hidup manusia, memperlancar hidup manusia dan mewarnai kehidupan, menjaga manusia agar tetap bersikap positif terhadap hidup. Dengan seks kehidupan menjadi lebih mudah dipertahankan, spesies manusia berlangsung terus. Dari sinilah saya mendapat metafor tentang seks. Intinya, seks adalah pelanggeng kehidupan; melicinkan laju hidup dengan lumasannya, menyegarkan diri setelah letih dan jenuh bertahan hidup mendera berulang-ulang. Dan Kamasutra ini, menjadi pengantar bagi anda untuk sekedar mengingat kembali, apa arti dari kehidupan yang licin dan menyegarkan, yang bisa dinikmati dengan kelima panca indera kita.

 

Semoga.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.