Ketiak basah dan pemanasan Global

Ketiak basah dan pemanasan global, apa hubungannya?

Ketiak basah dan pemanasan global, apa hubungannya?

Tulisan ini aslinya sudah saya mulai semenjak tahun 2009, tapi kala itu, hanya berupa teaser saja. Isinya “My Next Writing, akan berjudul demikian. Selamat menunggu posting saya selanjutnya”. Cuma itu. Terus ketika saya buka-buka kembali blog saya, lha kok terpanggil untuk melengkapi janji saya tersebut. Untuk sebuah next writing, saya sajikan tulisan ini secara lebih lengkap, tentunya dengan gaya bahasa dan dolanan kata “sakkepenake sing nulis”, alias seenak udel penulisnya. Akhirnya, selamat menikmati.


Kalau dicari-cari melalui mbah google, kata ketiak basah menghasilkan sekitar 265,000 hasil  dalam tempo 0.09 detik saja. Sementara pemanasan global dicatat goggle sekitar 1,890,000 hasil  dalam tempo 0.08 detik. Tapi gabungan antara kata ketiak basah dengan pemansan global, menghasilkan sekitar 13,600 hasil dalam tempo 0.23 detik.

Ingin rasanya saya membuat pembaca tulisan  ini membenarkan apa yang yang saya tulis ini secara absolut, tapi karena popularitas materi tulisan saya yang oleh mbah Google bisa dikategorikan tidak gampang ditemukan, mungkin saya harus membuang jauh-jauh keinginan saya tersebut, karena tidak gampang menghubungkan fenomena ketiak basah dengan  pemansan global.

Bicara ketiak basah, mau tidak mau kita akan bergesekan dengan  gaya hidup masyarakat era modern, yang umumnya memiliki “norma”. Bilamana seseorang memiliki ketiak yang basah, maka bisa diartikan sang empunya ketiak termasuk kedalam golongan orang yang tidak peduli penampilan, kuper, atau yang lebih parah lagi, mengganggu hubungan antar manusia. Setidaknya, itu bisa kita lihat dari berbagai iklan di layar kaca, yang memberikan “pendidikan tak langsung” kepada pemirsanya tentang bagaimana membuat fenomena ketiak basah itu menjadi sesuatu hal penting dan sangat layak untuk dicarikan jalan keluar secepat mungkin. Bahkan opini pemirsa pun, secara pelan2 dibentuk sedemikian rupa, bahwasanya dengan ketiak yang “kering dan harum” akan membuat segala urusan menjadi lebih mudah, dan menyenangkan.  Di dunia nyata, pembentukan opini itu sukses besar mengubah paradigma berpikir, terutama generasi muda yang relatif berkepribadian cenderung labil, dan sangat “terbuka” terhadap berbagai masukan, khususnya yang berhubungan dengan penampilan. Tentang bagaimana generasi muda sekarang yang berbondong-bondong memakai berbagai produk yang diklaim mampu mengatasi “masalah” ketiak basah, lengkap dengan segala macam variasi bentuk dan penggunaannya.

Sejauh yang saya bisa telusuri, fenomena ketiak basah ini baru mengemuka sekitar tahun 2000-an, dimana “kemunculannya” nyaris seiring sejalan dengan kemunculan produk-produk pencegah basahnya ketiak itu dengan kemasan yang enak dipandang mata dan mudah ditenteng kemana saja. Padahal sebelumnya, anda bisa tanyakan kepada generasi muda tahun 80-an misalnya, ketiak basah relatif tidak menjadi masalah dalam pergaulan kala itu.

Penyebab ketiak yang basah,  tentu saja karena keluarnya keringat. Sebuah proses metabolisme yang sangat penting, terutama untuk mengatur suhu tubuh. Untuk negara tropis semacam Indonesia, berkeringat semestinya dianggap sebagai sebuah hal yang wajar, karena proses tersebut akan membantu mendinginkan tubuh, sehingga seluruh organ-organ di dalam tubuh dapat bekerja dengan baik di suhu yang normal, yaitu sekitar 37 derajat celcius. Kalau tidak berkeringat, maka tubuh akan mengalami demam, suhu tubuh naik, dan anda bisa sakit berat. Selain untuk mengatur suhu, keringat juga ada yang dikeluarkan saat situasi mental dan emosional sedang meningkat, dan saat kita sedang makan makanan pedas. Kelenjar keringat ada di seluruh permukaan kulit  tubuh kita. Keringat seharusnya tidak berbau, kecuali telah terkontaminasi oleh bakteri.

Nah, sampai disini, apakah inti permasalahan yang ingin saya paparkan sudah ditangkap dengan jelas? Belum ya? Hehehe…. Gini. Ketiak basah, sebenarnya sebuah proses metabolisme yang sangat biasa saja. Sebuah hal yang idealnya, tidak perlu untuk diributkan atau terlalu mendapat perhatian. Namun demikian, tidak demikian halnya dengan para produsen, pabrik-pabrik pengharum dan pengering ketiak di seantero negeri. Dalam rangka meningkatkan grafik penjualan produk mereka, calon pembeli harus “dididik” sedemkian rupa, sehingga mereka menjadi “menganggap penting” arti basah di ketiak. Sebab, manakala basahnya ketiak tersebut sudah menjadi suatu hal yang penting, maka kebutuhan akan “sesuatu” yang mampu membuat ketiak lebih kering, adalah menjadi sebuah kebutuhan. Minimal kalau dulunya produk pencegah ketiak basah masih menjadi kebutuhan tersier, bisa diangkat tingkatannya menjadi kebutuhan sekunder.

Nah, mendidik konsumen tersebut tentunya juga harus melihat siruasi dan kondisi. Misalkan menjual produk pencegah ketiak basah di negara bermusim dingin selalu, tentu saja menjadi sebuah hal yang mubadzir. Tetapi untuk di daerah tropis seperti Indonesia, dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, sudah pasti akan menjadi ladang subur untuk menaikkan grafik angka penjualan. Iklan tentu saja menjadi sebuah hal yang sangat mutlak untuk dijadikan senjata “mendidik” konsumen potensial. Sebuah kondisi yang menguntungkan adalah mencuatnya isu pemanasan global, dimana Wikipedia mencatatnya dengan definisi sebagai berikut: Pemanasan global atau Global Warming adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Isu yang sebenarnya masih belum bisa diterima seratus persen kebenarannya ini cukup membuat pola pikir manusia tentang bumi menjadi berubah. Kepedulian terhadap bumi, menjaga kebersihan lingkungan, aksi penanaman pohon, bersih-bersih pantai, dan berbagai macam kampanye berlabel peduli lingkungan digelar di berbagai pelosok negeri.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.