Sebuah proses ramah lingkungan dari rumah anda


Hehehe, setelah sekian lama blog saya ini terbengkalai, kayaknya baru sekarang ini sempat mengaktifkannya lagi. Proses menulis memang sebuah hal yang buat saya bisa seperti roda, kadang dibawah, kadang diatas. Tapi saya pikir manusiawi kok (Hehehe, sekedar pembenaran atas kemalasan saya mengupdate isi blog saya ini). Di si lain, teman saya bilang, media (itu termasuk blog saya ini juga) memiliki peran signifikan dalam mensosialisasikan berbagai wawasan, termasuk wawasan tentang kelestarian lingkungan hidup. Jadi, saya termotivasi lagi untuk ikut serta dalam peran tersebut.

Saya mungkin tidak akan masuk kedalam konteks besar media pada umumnya (mainstream), yang mengungkap isu-isu baru yang menjadi perhatian banyak pihak, misalnya tentang pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang akhir-akhir ini kian parah. Saya hanya menulis tentang lingkungan yang berkaitan secara langsung dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Kadangkala saking monoton nya ritme kehidupan kita, kepedulian terhadap lingkungan sekitar kita sendiri menjadi sebuah hal yang terabaikan. Rutinitas kita makan, jikalau kita mau sejenak meluangkan waktu menelaah nya, ternyata juga menyumbang masalah terhadap lingkungan. Proses mengolah bahan mentah yang diperolah istri dari pasar tradisional terdekat rumah, sebelum terhidang di meja makan, melampaui proses pembersihan, pengupasan, pemotongan, dan akhirnya pemasakan. Seperti pada umumnya proses produksi, memasak di rumah juga menghasilkan sisa proses produksi, yang bisa kita sebut sampah. Lalu?

Jikalau proses produksi untuk sajian di atas meja makan berlangsung setiap hari (bukannya seperti itu seharusnya?), maka pernahkah anda menghitung, berapakah besar sisa proses produksi tersebut? Mmmm, sepertinya tidak pernah deh, karena dipastikan kalau anda memilih kompleks perumahan sebagai rumah tinggal anda, niscaya jasa tukang sampah yang rutin mengambil sisa proses produksi rumah anda secara rutin, setidaknya setiap pagi, adalah andalan anda. Paling anda baru “sedikit ngeh” tentang sisa proses produksi ini manakala ada bau tidak nyaman mampir manakala anda istirahat siang di rumah anda.

 

Seandainya, ini baru seandainya ya. JIkalau anda berkenan sejenak melepas rutinitas anda, dan lebih menikmati dinamika kehidupan di sekitar anda, niscaya monotonisme sebagai produk dari rutinitas yang anda lakukan setiap hari, akan melenyap. Tarohlah anda berkenan melihat bagaimana proses produksi makanan di meja makan anda secara mendetail, termasuk bagaimana penanganan akhir sisa hasil produksinya, kemudian sejenak memikirkannya, dan melakukan aksi kecil untuk menyempurnakan proses produksi anda menjadi lebih ramah lingkungan. Membuat instalasi mini pengolah hasil produksi makanan anda, berikut mengubah cara pengadaan bahan baku produksi anda menjadi “miskin” penggunaan pembungkus plastik, pengikat karet dan kertas.

 

Well, anda memang tidak bisa kemudian melihat hasilnya dalam tempo sekejab mata. Dalam langkah seperti yang telah saya paparkan diatas, sebenarnya anda mempekerjakan bakteri dan organisme jasad renik yang tersedia melimpah di sekitar anda, dimana kecepatan bekerjanya memang tidak seperti mesin produksi pabrik. Namun dijamin, tanpa supervisi yang terlalu ketat maupun report periodic, mereka akan menghasilkan keuntungan yang signifikan terhadap kehidupan anda.

Anda tidak percaya? Lakukan dulu proses yang lebih ramah lingkungan untuk proses-proses produksi di rumah anda, lalu lihat hasilnya kemudian.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.