<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dian Purnama&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://parikesit.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://parikesit.wordpress.com</link>
	<description>Ego Seorang Penulis</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Dec 2011 15:57:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='parikesit.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dian Purnama&#039;s Blog</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://parikesit.wordpress.com/osd.xml" title="Dian Purnama&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://parikesit.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sebuah proses ramah lingkungan dari rumah anda</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2011/02/20/sebuah-proses-ramah-lingkungan-dari-rumah-anda/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2011/02/20/sebuah-proses-ramah-lingkungan-dari-rumah-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2011 07:16:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Hehehe, setelah sekian lama blog saya ini terbengkalai, kayaknya baru sekarang ini sempat mengaktifkannya lagi. Proses menulis memang sebuah hal yang buat saya bisa seperti roda, kadang dibawah, kadang diatas. Tapi saya pikir manusiawi kok (Hehehe, sekedar pembenaran atas kemalasan saya mengupdate isi blog saya ini). Di si lain, teman saya bilang, media (itu termasuk&#160;&#8230; <a href="http://parikesit.wordpress.com/2011/02/20/sebuah-proses-ramah-lingkungan-dari-rumah-anda/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=111&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://parikesit.files.wordpress.com/2011/02/banner_writingcontest.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-112" title="banner_WritingContest" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2011/02/banner_writingcontest.jpg?w=495&#038;h=62" alt="" width="495" height="62" /></a><br />
</strong></p>
<p>Hehehe, setelah sekian lama blog saya ini terbengkalai, kayaknya baru sekarang ini sempat mengaktifkannya lagi. Proses menulis memang sebuah hal yang buat saya bisa seperti roda, kadang dibawah, kadang diatas. Tapi saya pikir manusiawi kok (Hehehe, sekedar pembenaran atas kemalasan saya mengupdate isi blog saya ini). Di si lain, teman saya bilang, media (itu termasuk blog saya ini juga) memiliki peran signifikan dalam mensosialisasikan berbagai wawasan, termasuk wawasan tentang kelestarian lingkungan hidup. Jadi, saya termotivasi lagi untuk ikut serta dalam peran tersebut.</p>
<p>Saya mungkin tidak akan masuk kedalam konteks besar media pada umumnya (mainstream), yang mengungkap isu-isu baru yang menjadi perhatian banyak pihak, misalnya tentang pemanasan global dan kerusakan lingkungan yang akhir-akhir ini kian parah. Saya hanya menulis tentang lingkungan yang berkaitan secara langsung dengan kehidupan manusia sehari-hari.</p>
<p>Kadangkala saking monoton nya ritme kehidupan kita, kepedulian terhadap lingkungan sekitar kita sendiri menjadi sebuah hal yang terabaikan. Rutinitas kita makan, jikalau kita mau sejenak meluangkan waktu menelaah nya, ternyata juga menyumbang masalah terhadap lingkungan. Proses mengolah bahan mentah yang diperolah istri dari pasar tradisional terdekat rumah, sebelum terhidang di meja makan, melampaui proses pembersihan, pengupasan, pemotongan, dan akhirnya pemasakan. Seperti pada umumnya proses produksi, memasak di rumah juga menghasilkan sisa proses produksi, yang bisa kita sebut sampah. Lalu?</p>
<p>Jikalau proses produksi untuk sajian di atas meja makan berlangsung setiap hari (bukannya seperti itu seharusnya?), maka pernahkah anda menghitung, berapakah besar sisa proses produksi tersebut? Mmmm, sepertinya tidak pernah deh, karena dipastikan kalau anda memilih kompleks perumahan sebagai rumah tinggal anda, niscaya jasa tukang sampah yang rutin mengambil sisa proses produksi rumah anda secara rutin, setidaknya setiap pagi, adalah andalan anda. Paling anda baru “sedikit ngeh” tentang sisa proses produksi ini manakala ada bau tidak nyaman mampir manakala anda istirahat siang di rumah anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seandainya, ini baru seandainya ya. JIkalau anda berkenan sejenak melepas rutinitas anda, dan lebih menikmati dinamika kehidupan di sekitar anda, niscaya monotonisme sebagai produk dari rutinitas yang anda lakukan setiap hari, akan melenyap. Tarohlah anda berkenan melihat bagaimana proses produksi makanan di meja makan anda secara mendetail, termasuk bagaimana penanganan akhir sisa hasil produksinya, kemudian sejenak memikirkannya, dan melakukan aksi kecil untuk menyempurnakan proses produksi anda menjadi lebih ramah lingkungan. Membuat instalasi mini pengolah hasil produksi makanan anda, berikut mengubah cara pengadaan bahan baku produksi anda menjadi “miskin” penggunaan pembungkus plastik, pengikat karet dan kertas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Well, anda memang tidak bisa kemudian melihat hasilnya dalam tempo sekejab mata. Dalam langkah seperti yang telah saya paparkan diatas, sebenarnya anda mempekerjakan bakteri dan organisme jasad renik yang tersedia melimpah di sekitar anda, dimana kecepatan bekerjanya memang tidak seperti mesin produksi pabrik. Namun dijamin, tanpa supervisi yang terlalu ketat maupun report periodic, mereka akan menghasilkan keuntungan yang signifikan terhadap kehidupan anda.</p>
<p>Anda tidak percaya? Lakukan dulu proses yang lebih ramah lingkungan untuk proses-proses produksi di rumah anda, lalu lihat hasilnya kemudian.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=111&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2011/02/20/sebuah-proses-ramah-lingkungan-dari-rumah-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2011/02/banner_writingcontest.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">banner_WritingContest</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketiak basah dan pemanasan Global</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2010/11/01/tulisan-selanjutnya/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2010/11/01/tulisan-selanjutnya/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 06:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Plesir Bahasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini aslinya sudah saya mulai semenjak tahun 2009, tapi kala itu, hanya berupa teaser saja. Isinya &#8220;My Next Writing, akan berjudul demikian. Selamat menunggu posting saya selanjutnya&#8221;. Cuma itu. Terus ketika saya buka-buka kembali blog saya, lha kok terpanggil untuk melengkapi janji saya tersebut. Untuk sebuah next writing, saya sajikan tulisan ini secara lebih&#160;&#8230; <a href="http://parikesit.wordpress.com/2010/11/01/tulisan-selanjutnya/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=77&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_76" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-76" title="Ketiak" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/06/ketiak.gif?w=300&#038;h=83" alt="Ketiak basah dan pemanasan global, apa hubungannya?" width="300" height="83" /><p class="wp-caption-text">Ketiak basah dan pemanasan global, apa hubungannya?</p></div>
<p><em>Tulisan ini aslinya sudah saya mulai semenjak tahun 2009, tapi kala itu, hanya berupa teaser saja. Isinya &#8220;My Next Writing, akan berjudul demikian. Selamat menunggu posting saya selanjutnya&#8221;. Cuma itu. Terus ketika saya buka-buka kembali blog saya, lha kok terpanggil untuk melengkapi janji saya tersebut. Untuk sebuah next writing, saya sajikan tulisan ini secara lebih lengkap, tentunya dengan gaya bahasa dan dolanan kata &#8220;sakkepenake sing nulis&#8221;, alias seenak udel penulisnya. Akhirnya, selamat menikmati.</em></p>
<p><strong><a href="http://parikesit.files.wordpress.com/2011/02/banner_writingcontest.jpg"><img title="banner_WritingContest" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2011/02/banner_writingcontest.jpg?w=495&#038;h=62" alt="" width="495" height="62" /></a></strong><br />
Kalau dicari-cari melalui mbah google, kata ketiak basah menghasilkan sekitar 265,000 hasil   dalam tempo 0.09 detik saja. Sementara pemanasan global dicatat goggle sekitar 1,890,000 hasil  dalam tempo 0.08 detik. Tapi gabungan antara kata ketiak basah dengan pemansan global, menghasilkan sekitar 13,600 hasil  dalam tempo 0.23 detik.</p>
<p>Ingin rasanya saya membuat pembaca tulisan  ini membenarkan apa yang yang saya tulis ini secara absolut, tapi karena popularitas materi tulisan saya yang oleh mbah Google bisa dikategorikan tidak gampang ditemukan, mungkin saya harus membuang jauh-jauh keinginan saya tersebut, karena tidak gampang menghubungkan fenomena ketiak basah dengan  pemansan global.</p>
<p>Bicara ketiak basah, mau tidak mau kita akan bergesekan dengan  gaya hidup masyarakat era modern, yang umumnya memiliki &#8220;norma&#8221;. Bilamana seseorang memiliki ketiak yang basah, maka bisa diartikan sang empunya ketiak termasuk kedalam golongan orang yang tidak peduli penampilan, kuper, atau yang lebih parah lagi, mengganggu hubungan antar manusia. Setidaknya, itu bisa kita lihat dari berbagai iklan di layar kaca, yang memberikan &#8220;pendidikan tak langsung&#8221; kepada pemirsanya tentang bagaimana membuat fenomena ketiak basah itu menjadi sesuatu hal penting dan sangat layak untuk dicarikan jalan keluar secepat mungkin. Bahkan opini pemirsa pun, secara pelan2 dibentuk sedemikian rupa, bahwasanya dengan ketiak yang &#8220;kering dan harum&#8221; akan membuat segala urusan menjadi lebih mudah, dan menyenangkan.  Di dunia nyata, pembentukan opini itu sukses besar mengubah paradigma berpikir, terutama generasi muda yang relatif berkepribadian cenderung labil, dan sangat &#8220;terbuka&#8221; terhadap berbagai masukan, khususnya yang berhubungan dengan penampilan. Tentang bagaimana generasi muda sekarang yang berbondong-bondong memakai berbagai produk yang diklaim mampu mengatasi &#8220;masalah&#8221; ketiak basah, lengkap dengan segala macam variasi bentuk dan penggunaannya.</p>
<p>Sejauh yang saya bisa telusuri, fenomena ketiak basah ini baru mengemuka sekitar tahun 2000-an, dimana &#8220;kemunculannya&#8221; nyaris seiring sejalan dengan kemunculan produk-produk pencegah basahnya ketiak itu dengan kemasan yang enak dipandang mata dan mudah ditenteng kemana saja. Padahal sebelumnya, anda bisa tanyakan kepada generasi muda tahun 80-an misalnya, ketiak basah relatif tidak menjadi masalah dalam pergaulan kala itu.</p>
<p>Penyebab  ketiak yang basah,  tentu saja karena keluarnya keringat. Sebuah proses metabolisme yang sangat penting, terutama untuk mengatur suhu tubuh. Untuk negara tropis semacam Indonesia, berkeringat semestinya dianggap sebagai sebuah hal yang wajar, karena proses tersebut akan  membantu mendinginkan  tubuh, sehingga seluruh organ-organ di dalam tubuh  dapat bekerja dengan baik di suhu yang normal, yaitu sekitar 37 derajat  celcius.  Kalau tidak berkeringat, maka tubuh akan mengalami demam, suhu  tubuh  naik, dan anda bisa sakit berat. Selain untuk mengatur suhu,  keringat juga ada yang dikeluarkan saat  situasi mental dan emosional sedang  meningkat, dan saat kita sedang  makan makanan pedas. Kelenjar keringat ada  di seluruh permukaan kulit   tubuh kita. Keringat seharusnya tidak berbau,  kecuali telah  terkontaminasi oleh bakteri.</p>
<p>Nah, sampai disini, apakah inti permasalahan yang ingin saya paparkan sudah ditangkap dengan jelas? Belum ya? Hehehe&#8230;. Gini. Ketiak basah, sebenarnya sebuah proses metabolisme yang sangat biasa saja. Sebuah hal yang idealnya, tidak perlu untuk diributkan atau terlalu mendapat perhatian. Namun demikian, tidak demikian halnya dengan para produsen, pabrik-pabrik pengharum dan pengering ketiak di seantero negeri. Dalam rangka meningkatkan grafik penjualan produk mereka, calon pembeli harus &#8220;dididik&#8221; sedemkian rupa, sehingga mereka menjadi &#8220;menganggap penting&#8221; arti basah di ketiak. Sebab, manakala basahnya ketiak tersebut sudah menjadi suatu hal yang penting, maka kebutuhan akan &#8220;sesuatu&#8221; yang mampu membuat ketiak lebih kering, adalah menjadi sebuah kebutuhan. Minimal kalau dulunya produk pencegah ketiak basah masih menjadi kebutuhan tersier, bisa diangkat tingkatannya menjadi kebutuhan sekunder.</p>
<p>Nah, mendidik konsumen tersebut tentunya juga harus melihat siruasi dan kondisi. Misalkan menjual produk pencegah ketiak basah di negara bermusim dingin selalu, tentu saja menjadi sebuah hal yang mubadzir. Tetapi untuk di daerah tropis seperti Indonesia, dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, sudah pasti akan menjadi ladang subur untuk menaikkan grafik angka penjualan. Iklan tentu saja menjadi sebuah hal yang sangat mutlak untuk dijadikan senjata &#8220;mendidik&#8221; konsumen potensial. Sebuah kondisi yang menguntungkan adalah mencuatnya isu pemanasan global, dimana Wikipedia mencatatnya dengan definisi sebagai berikut: <em><strong>Pemanasan global</strong></em> atau <em><strong>Global Warming</strong></em> adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Isu yang sebenarnya masih belum bisa diterima seratus persen kebenarannya ini cukup membuat pola pikir manusia tentang bumi menjadi berubah. Kepedulian terhadap bumi, menjaga kebersihan lingkungan, aksi penanaman pohon, bersih-bersih pantai, dan berbagai macam kampanye berlabel peduli lingkungan digelar di berbagai pelosok negeri.</p>
<p>Bersambung&#8230;</p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=77&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2010/11/01/tulisan-selanjutnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/06/ketiak.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Ketiak</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2011/02/banner_writingcontest.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">banner_WritingContest</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Copywriting ala Martabak Tegal</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/17/copywriting-ala-martabak-tegal/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/17/copywriting-ala-martabak-tegal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 08:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[62007]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Berjibaku dengan copywriting, sebenarnya sudah secara tidak sadar dilakukan semua orang. Hehehe, sebenarnya sih aji mumpung aja dan pengiritan, kalau pinjem kata2 dari blognya bu Nunu Andini yang bilang, secara satir. Semua orang dilibatin kedalam proses pemilihan content dari sebuah iklan. Tapi sebenarnya, karena keroyokan, maka hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Tapi itu ndak&#160;&#8230; <a href="http://parikesit.wordpress.com/2009/11/17/copywriting-ala-martabak-tegal/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=106&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/fliyersok.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-105" title="Fliyers Badung Kasarung" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/fliyersok.jpg?w=115&#038;h=150" alt="" width="115" height="150" /></a> Berjibaku dengan copywriting, sebenarnya sudah secara tidak sadar dilakukan semua orang. Hehehe, sebenarnya sih aji mumpung aja dan pengiritan, kalau pinjem kata2 dari blognya bu <a href="http://www.copywritingskill.com/">Nunu Andini</a> yang bilang, secara satir. Semua orang dilibatin kedalam proses pemilihan content dari sebuah iklan. Tapi sebenarnya, karena keroyokan, maka hasilnya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Tapi itu ndak masalah, wong itu sebuah pilihan kok.</p>
<p>Tapi yang saya ceritakan kali ini, mungkin juga tidak nyambung dengan opening diatas. Lha wong cerita saya dimulai dari sebuah gerobak kecil di pinggir jalan mustikasari antara tol timur dengan bantargebang.  Singkat ceritanya, beliau ini berjualan martabak, yang kata orang yang beli, martabak Bangka. Tapi yang jual, asli orang Tegal, yang belum pernah menginjak Bangka. Tapi rasa martabaknya boleh lah diadu dengan Martabak Alim sekalipun. Tapi ya itu, penampilan gerobaknya ya Cuma sekedar nya aja. Bagian depan di Branding sama susu cream.</p>
<p>Belakangan saya ngobrol dengan mereka, karena kebetulan istri dan keponakan cukup senang dengan rasa martabak bikinan tegal ini. Jadilah mereka meminta tolong saya untuk membuatkan daftar menu yang baru, sekaligus mengganti nama martabak mereka menjadi martabak tegal. Maka setelah buka photoshop, dan mencorat0coret sana-sini, akhirnya keluarlah ide martabak tegal seperti dibawah ini.</p>
<p><a href="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/logo.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-107" title="logo Martabak Tegal" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/logo.jpg?w=150&#038;h=97" alt="" width="150" height="97" /></a>Idenya sederhana saja, dibuat agar orang memperhatikan tulisan Tegal. Nah, sekarang baru mau nyambung lagi dengan tulisan paragraph awal. Menawarkan kata Tegal sebagai Brand dari jualan si mas, sebenarnya lebih kepada mengangkat keunggulan si mas yang berasal dari Tegal. Kalau martabak, wah, sudah banyak macamnya. Namun setelah searching sana-sini, ketahuan kalau brand martabak tegal, masih belum ada yang memakainya. Sebenarnya sih masih kurang puas, karena belum menambahkan Tagline yang umumnya bisa semakin menarik minat orang untuk membelinya. Namun jikalau melihat pangsa pasar martabak si mas, kayaknya sudah cukup dengan logo dan kata Tegal saja dulu untuk sementara. Karena itu sudah cukup mencolok mata (heheh, kalau menurut saya sih).</p>
<p>Saya memang paling suka memainkan kata, dan kemudian membuatnya menjadi sangat terlihat sebagai pemancing perhatian. Misalkan saja pada copywriting yang saya pilih untuk flyers novel Badung Kasarung, yang mencolokkan kalimat seperti yang tertera diatas. Kata-kata, menurut saya bisa tajam dan mampu mengiris kemalasan kita untuk membeli sebuah produk.</p>
<p>Yah, senoga saja, dagangan mereka tambah laku dengan brand martabak tegal, dan Novel Badung Kasarungnya juga bisa sampai cetak ulang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=106&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/17/copywriting-ala-martabak-tegal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/fliyersok.jpg?w=115" medium="image">
			<media:title type="html">Fliyers Badung Kasarung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/logo.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">logo Martabak Tegal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pelumas Kehidupan</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/pelumas-kehidupan/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/pelumas-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 04:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[62007]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Berlebihankah saya bilamana seks saya anggap sebagai pelicin sekaligus penyegar kehidupan, seperti halnya peran oli dalam melumasi mesin mobil, seperti hujan menyegarkan bumi? Kehidupan terjadi di Bumi terutama karena ada makhluk hidup, dimana anda dan saya berinteraksi di dalamnya. Dalam kurun waktu yang, entah berapa miliar tahun, kehidupan telah berlangsung di muka Bumi, sehingga mampu&#160;&#8230; <a href="http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/pelumas-kehidupan/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=96&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berlebihankah saya bilamana seks saya anggap sebagai pelicin sekaligus penyegar kehidupan, seperti halnya peran oli dalam melumasi mesin mobil, seperti hujan menyegarkan bumi? Kehidupan terjadi di Bumi terutama karena ada makhluk hidup, dimana anda dan saya berinteraksi di dalamnya. Dalam kurun waktu yang, entah berapa miliar tahun, kehidupan telah berlangsung di muka Bumi, sehingga mampu memunculkan perdebatan tentang umur makhluk hidup, seperti  juga tentang asal-usul dunia masih berlangsung hingga hari ini. Generasi demi generasi berganti, sehingga roda kehidupan berkembang terus.</p>
<p>Otomatis, dorongan hidup semakin bertahan, bahkan makin besar dari waktu ke waktu. “Apa yang membuat orang lebih memilih hidup ketimbang mati, bahkan di saat-saat teramat sulit?” Para biolog menuduh naluri hidup (life instinct) pegang peranan di sana. Psikoanalisis dengan Freud sebagai tokoh awalnya pun menunjuk itu, naluri hidup yang menggerakkan manusia untuk bertahan hidup, mendorong kita mencari cara-cara mempertahankan dan mengembangkan diri.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-97" title="Kamasutra" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/preparing.jpg?w=147&#038;h=245" alt="Kamasutra" width="147" height="245" />Agak lompat sedikit dari topik awal, saya mencoba menulis bahwasanya pada medio 60-70 an, ada banyak sekali ragam versi Kamasutra. Sebenarnya, Kamasutra sendiri lebih dari sekedar buku dalam kategori porno. Penulis buku ini bilang, Kamasutra dan teks Ananga Ranga, The Parfumed garden, dan Tao, harus dihubungkan dengan kondisi kuno dan peradaban di awal abad  ke 20. Bahwa teks ini berhubungan dengan pusat perasaan. Jadi, bukan sekedar melakukan interaksi seksual dengan &#8220;siapapun&#8221;, tetapi pelakunya harus memiliki juga perasaan, dimana dalam berhubungan seksual tersebut, para pelakunya &#8220;harus&#8221; memperoleh rasa cinta, kenyamanan dan kehangatan antara satu sama lain. Konsep dari Kamasutra termasuk juga di dalamnya menikmati segala objek yang dapat dinikmati dengan kelima panca indra manusia, seiring sejalan dengan pemikiran dan jiwa manusia yang melakukannya. Sebuah konsep yang tentunya sangat relevan untuk menyegarkan pola pemikiran manusia masa kini dalam berhubungan dan hidup di dunia yang semakin maju ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di paragraph awal tadi, telah saya tuliskan bahwa Naluri hidup adalah energi yang mendorong Anda dan saya bertahan hidup. Tetapi sebuah dorongan akan mendapat resistensi jika tak punya nilai positif bagi yang didorongnya. Naluri hidup adalah energi awal, penggerak awal kehidupan di planet ini. Apa lagi setelah itu? Apa yang bikin hidup lebih berharga daripada tak hidup? Mengapa sampai Anggodo mati-matian membela dirinya bahwa dia tidak bersalah, sementara Pak Bibit dan Chandra malah mengaku tidak tahu menahu perihal uang dari Anggodo itu? Lho, kok lompatnya jauh men? Yang pasti, Anggodo, Pak Bibit maupun pak Chandra, memiliki mekanisme nya sendiri untuk menjaga kelangsungan kehidupannya, termasuk ketika kehidupan pribadinya terungkit publik. Pasti ada yang menyenangkan dari hidup dan bikin kita betah. Mengapa saya mencintai hidup saya, mau bersusah payah mengisinya, bersakit-sakit mendayung menentang arus dunia yang tak selalu ramah? Mengapa Pembela Anggodo, Pak Bonaran, sangat gemar bekerja, rela berkutat dengan begitu banyak soal, bahkan kadang bersakit-sakit untuk mendapatkan sesuatu? Pasti ada yang menyenangkan di sana, ada kenikmatan yang menjaga kita dari aktivitas merusak diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain perlu makan dan minum, kita juga menjaga diri dari bahaya, menghindar dari hal yang menyakitkan dan merusak tubuh. Lapar, mendorong kita untuk makan, sehingga tubuh kita tegang. Ketegangan itu akan mereda setelah makan, dan berganti dengan rasa nikmat. Mangkanya wajar bilamana makan saat lapar, minum saat haus, adalah aktivitas yang menghasilkan kenikmatan. Pijatan yang melemaskan pegal di sekujur tubuh, bagaimana nikmatnya menggaruk bagian badan yang gatal, menghirup wangi meruap dari lawan jenis yang menarik, meresapi belaian sang kekasih, juga mengalun bersama lagu-lagu yang kita sukai, adalah deretan aktifitas yang memunculkan apa yang kita sebut dengan kenikmatan. Inilah kata kunci dari kehidupan, dasar pertahanan diri, motif tingkahlaku, unsur hidup yang menjaga kita tetap berharap dan bergerak ke depan. Tanpa kenikmatan, hidup hampa, bahkan menyakitkan. Siapa yang mau bertahan dalam hidup yang terus-menerus menyakitkan? Siapa yang ingin bertahan dalam kehampaan?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu bagaimana kehidupan berlangsung dari generasi ke generasi, beragam spesies termasuk manusia bisa mempertahankan kehidupan mereka? Di sini kita baru bisa bicara tentang seks sebagai satu mekanisme penjaga keberlangsungan hidup, yang tentunya juga melibatkan kenikmatan di dalamnya. Naluri hidup juga mendorong aktifitas penyebarluasan keturunan, dengan berkembang biak. Reproduksi menjadi proses yang tak terpisahkan dari kehidupan tiap organisme hidup. Beranak-pinak, menyebar-luas, berkoloni, menghasilkan generasi baru terus menerus, merupakan fakta dari setiap spesies yang belum punah. Dan seks jadi inti semua itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya terpaksa memahami ‘kejenialan’ Freud dalam memahami gejala seksual. Caranya memahami manusia memberi kita dasar-dasar pemahaman seksualitas manusia secara psikologis. Seks adalah sendi kehidupan; dasar dan motif tingkahlaku manusia. Seks adalah perwujudan utama dari naluri hidup, sekaligus tak jarang juga jadi perwujudan dari naluri mati. Kedua naluri itu berperan dalam perilaku seksual manusia. Prinsip kenikmatan yang menjaga keberlangsungan usaha manusia bertahan hidup pun berlaku dalam seks. Bahkan buat Freud, justru seks inilah inti dari keberlangsungan hidup manusia. Sejak balita, sebagai makhluk pencari kenikmatan manusia sudah punya pengalaman seksual, tetapi peralatannya bukan organ genital, melainkan organ-organ lain yang dijadikan sebagai ranah aktivitas kenikmatan, seperti mulut pada bayi yang menyusu pada ibunya dan anus tempat melampiaskan atau menahan keinginannya buang air. Di sana kenikmatan-kenikmatan diperoleh balita.</p>
<p>Baru kemudian, sembari belajar tentang perbedaan jenis kelamin biologis, mereka menjadikan organ genital alat utama aktivitas perolehan kenikmatan, sebagai alat seksual. Namun, tidak semua orang mempertahankan organ genital sebagai alat seks utama. Karena satu dan lain hal, ada orang-orang yang lebih suka kembali atau bertahan dengan memanfaatkan mulut atau anus. Ada juga orang-orang yang mengalihkan fungsi alat seksual kepada benda-benda atau makhluk hidup lain. Ada orang yang memperoleh kenikmatan seksual dari barang-barang milik lawan jenis seperti pada para pelaku fetisisme. Ada juga yang suka berhubungan seks dengan binatang (zoophilia). Cara pelampiasan dorongan seksual pun tidak selalu melalui intercourse dengan lawan jenis. Ada orang yang mendapat kenikmatan seksual dari mengintip orang lain berhubungan badan (voyeurisme), ada juga yang terpuaskan setelah mengalami siksaan (masochisme) atau setelah menyiksa pasangan hubungan seksualnya (sado).</p>
<p>Keinginan mendapatkan kenikmatan dan niat memperoleh keturunan jelas didasari oleh naluri hidup. Lalu, tindakan menghentak, menghantam, merobek pada laki-laki dan kesediaan menerima hentakan, hantaman dan robekan pada perempuan didorong oleh naluri mati. Dalam perilaku seksual sado-masochisme, naluri mati dominan perannya. Aktivitas agresif dan destruktif menjadi cara penyaluran dorongan naluri mati untuk mendapatkan kenikmatan. Intinya, semuanya ingin mendapatkan kenikmatan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Freud malah melakukan lompatan, dengan hipotesisnya, peradaban manusia berkembang karena seks. Apapun yang terkait dengan tingkahlaku manusia, ujung-ujungnya seks. Bagi Freud, tingkahlaku manusia cukup direduksi sebatas seks. Apa menurut pendapat anda? Kalau menurut saya, hidup manusia itu lebih berharga, bukan seks semata. Tetapi penjelasan Freud tentang bagaimana seks menjaga kelangsungan hidup manusia, cukup saya terima di akal pemikiran saya. Babhwasanya seks sebagai salah satu bagian dari penjaga keberlangsungan hidup manusia, memperlancar hidup manusia dan mewarnai kehidupan, menjaga manusia agar tetap bersikap positif terhadap hidup. Dengan seks kehidupan menjadi lebih mudah dipertahankan, spesies manusia berlangsung terus. Dari sinilah saya mendapat metafor tentang seks. Intinya, seks adalah pelanggeng kehidupan; melicinkan laju hidup dengan lumasannya, menyegarkan diri setelah letih dan jenuh bertahan hidup mendera berulang-ulang. Dan Kamasutra ini, menjadi pengantar bagi anda untuk sekedar mengingat kembali, apa arti dari kehidupan yang licin dan menyegarkan, yang bisa dinikmati dengan kelima panca indera kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Semoga.</p>

<a href='http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/pelumas-kehidupan/kamasutra/' title='Kamasutra'><img data-attachment-id='97' data-orig-size='1399,2344' data-liked='0'width="89" height="150" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/preparing.jpg?w=89&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Kamasutra" title="Kamasutra" /></a>
<a href='http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/pelumas-kehidupan/kamasutra-2/' title='Kamasutra'><img data-attachment-id='98' data-orig-size='2480,3300' data-liked='0'width="112" height="150" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/kamasutra.jpg?w=112&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="Kamasutra" title="Kamasutra" /></a>

<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=96&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/pelumas-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/preparing.jpg?w=179" medium="image">
			<media:title type="html">Kamasutra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/preparing.jpg?w=89" medium="image">
			<media:title type="html">Kamasutra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/kamasutra.jpg?w=112" medium="image">
			<media:title type="html">Kamasutra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Martabak Tegal di Bekasi</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/martabak-tegal-di-bekasi/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/martabak-tegal-di-bekasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 04:13:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[Desain Record]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=100&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-99" title="Menu Martabak Tegal" src="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/menu-copy.jpg?w=205&#038;h=300" alt="Menu Martabak Tegal" width="205" height="300" /></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=100&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2009/11/13/martabak-tegal-di-bekasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://parikesit.files.wordpress.com/2009/11/menu-copy.jpg?w=205" medium="image">
			<media:title type="html">Menu Martabak Tegal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memperingati tanggal 6 Juni</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2009/06/04/memperingati-tanggal-6-juni/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2009/06/04/memperingati-tanggal-6-juni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 07:23:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[62007]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini, sebenarnya merupakan copy paste dari milisjurnalisme, untuk memperingati Hari Ulang Tahun Bung Karno pada tanggal 6 Juni. Keagungan sosok pemimpin terbesar dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam menentang kolonialisme Belanda, dan memimpin perjuangan untuk merebut kemerdekaan, serta perlawanan terhadap imperialisme yang dikepalai oleh AS, rasanya sulit terbantahkan. Tulisan tersebut akan merupakan dukungan terhadap&#160;&#8230; <a href="http://parikesit.wordpress.com/2009/06/04/memperingati-tanggal-6-juni/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=79&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><a href="http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/uploaded_files/jpg/biography/thumb/thumbsoekarno_bio.jpg"><img class="alignleft" title="Bung Karno" src="http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/uploaded_files/jpg/biography/thumb/thumbsoekarno_bio.jpg" alt="" width="193" height="250" /></a><em>Tulisan ini, sebenarnya merupakan copy paste dari milisjurnalisme, untuk memperingati Hari Ulang Tahun Bung Karno pada tanggal 6 Juni. Keagungan sosok pemimpin terbesar dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam menentang kolonialisme Belanda, dan memimpin perjuangan untuk merebut kemerdekaan, serta perlawanan terhadap imperialisme yang dikepalai oleh AS, rasanya sulit terbantahkan.<br />
</em></p>
<p><em>Tulisan tersebut akan merupakan dukungan terhadap segala macam kegiatan (besar maupun kecil-kecilan) oleh berbagai kalangan dalam masyarakat, untuk memperingati Hari Ulang Tahun bapak bangsa dan guru besar revolusioner rakyat ini. Sebab, dalam situasi menjelang pemilihan presiden RI yang akan diadakan bulan Juli yad, ketika seluruh bangsa sedang bertanya-tanya dan mencari-cari sosok kepemimpinan yang paling tepat untuk membimbing rakyat menuju perubahan besar, maka mengangkat kembali tinggi-tinggi ajaran revolusioner Bung Karno adalah salah satu jalan untuk menunjukkan arah yang diperlukan bangsa. </em></p></blockquote>
<p><strong>BUNG KARNO BELAJAR PENCA (SILAT)</strong><br />
Diterjemahkan oleh M. Fadilah<br />
Sumber Mangle No. 799 / 1981</p>
<p>Ketika kejadian sumpah pemuda 28 Oktober 1928, para tokoh pemuda pejuang bangsa Indonesia yang berada di Bandung banyak yang belajar maenpo (silat). Tidak heran sebab silat selain alah satu kebudayaan bangsa, juga merupakan ketrampilan yang besar manfaatnya untuk menjaga diri. Banyak macam silat di daerah sunda namun dari sekian macam-macam silat namun hanya ada satu silat yang dapat mengungkapkan rahasia tenaga yang berasal dari Cianjur yang dipimpin ajengan RH Ibrahim yang hidup antara th 1840 sampai th 1900 dengan nama silat Cikaretan. Salah seorang muridnya yang berbakat dan disayang yaitu Nampon, bahkan setelah RH Ibrahim meninggal, tinggal Nampon yang meneruskan silat Cikaretan.</p>
<p>Mengadu Kekuatan</p>
<p>Nampon mengajarkan ilmunya di daerah Ciburial Padalarang. Semenjak itulah silatnya disebut silat Nampon. Dalam pengajarannya dilakukan secara sembunyi-senbunyi agar supaya tidak diketahui oleh Belanda. Pada waktu itu di Bandung ada pendekar yang bernama Tamim Mahmud yang tinggal di Jl. Kopo. Dia sudah berguru dibeberapa perguruan silat dan sudah lazimnya pada waktu itu para pesilat sering mengadu kekuatan. Tamim Mahmud juga sudah menjajal kemampuannya ke beberapa pendekar silat, tetapi tidak ada yang mampu mengalahkan dia. Kebetulan pada waktu itu dia mendengar kabar di daerah Padalarang ada perguruan silat yang berbeda dari yang lain. Tidak ditunggu-tunggu lagi, dia menemui Nampon di perguruannya. Namun bagaimana adu kekuatan berlangsung tidak ada beritanya, yang didapatkan adalah Tamim Mahmud menyerah kalah kepada Nampon. Demikian luar biasa ampuhnya silat nampon, bagaimana tidak setiap Tamim Mahmud mendekati musuhnya, dia sudah jatuh duluan. Beberapa kali dia jatuh, bangun lagi sambil memasang kuda-kuda, tetapi setiap menerkam atau memukul lawan dia jatuh lagi jatuh ladi. Sampai akhirnya Tamim Mahmud mengakui kekalahannya bahkan selanjutnya berguru pada Nampon.</p>
<p>Pada tahun 1937, Bapak Nampon mengajarkan ilmunya tidalk lagi di Padalarang tetapi pindah ke jalan Kopo tempatnya Tamim Mahmud. Pada waktu itu perguruan sudahmenggunakan nama Tri Rasa dengan murid-muridnya kebanyakan dari kalanganmahasiswa.</p>
<p>Bung Karno dan Moh. Natsir</p>
<p>Mahasiswa yang belajar silat ditempat itu kebanyakan mahasiswa THS, Siswa KweekSchool, AMS MULO, Arabach Scholl, HBS dan OSVIA. Pada wakatu itulah Bung Karnodan Moh. Natsir belajar silat. Namun apa maksudnya Bung Karno belajar silat apakahhanya untuk mengisi waktu saja atau sengaja untuk menjaga diri. Namun yang jelasdia belajar silat bahkan mampu sampai mengeluarkan tenaga dalam. Tokoh lainnyayang belajar TRIRASA di antaranya Gusti Husaini ( sekarang dokter spesialis mata),Syarif Jaya (sekarang dokter di jalan Pungkur) dan Dr Muryani, semua muridnyatersebar di beberapa tempat, begitu menurut keterangan Yusuf Teja Sukmana, putera tunggal Pak Tamim Mahmud (alm).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=79&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2009/06/04/memperingati-tanggal-6-juni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/uploaded_files/jpg/biography/thumb/thumbsoekarno_bio.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bung Karno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali ke Tradisi</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2009/06/01/kembali-ke-tradisi/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2009/06/01/kembali-ke-tradisi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 04:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[62007]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Sejatinya, semakin banyak perancang produk kebutuhan manusia yang kebingungan memikirkan ide produk baru yang bakalan boom di pasar. Alih-alih modernisasi, mereka malah memikirkan kehidupan mereka di masa kecil, dengan kesederhanaan dan kebersahajaan. Contoh paling sederhana adalah untuk masuk rumah, dimana kita harus mengetuk pintu dulu. Bahkan bagi kakak kita yang pulang larut, habis nonton layar&#160;&#8230; <a href="http://parikesit.wordpress.com/2009/06/01/kembali-ke-tradisi/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=67&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejatinya, semakin banyak perancang produk kebutuhan manusia yang kebingungan memikirkan ide produk baru yang bakalan boom di pasar. Alih-alih modernisasi, mereka malah memikirkan kehidupan mereka di masa kecil, dengan kesederhanaan dan kebersahajaan. Contoh paling sederhana adalah untuk masuk rumah, dimana kita harus mengetuk pintu dulu. Bahkan bagi kakak kita yang pulang larut, habis nonton <em>layar tancep</em>, mereka harus ketuk2 pintu dulu, dan menunggu sampai orang tua kita bangun, membukakan pintu. Sangkil, karena orang tua tahu pasti, anggota keluarganya sudah berada di dalam rumah semua. Mangkus, karena tidak perlu lagi penggandaan kunci, dan resiko kehilangan kunci, seperti kunci rumah masa kini, yang seringkali digandakan untuk masing-masing anggota keluarga.</p>
<p>Sepertinya, tradisi tersebut menjadi pemikiran bagi sebuah perusahaan yang memproduksi peralatan pengaman terkemuka di dunia. Mereka memaparkan ide dasar dalam advertorial mereka, bahwasanya tidak setiap pintu rumah terbebas benar dari intaian. Bisa saja kunci telah diduplikasi tanpa sepengetahuan, atau hilang di suatu tempat hingga jatuh ke tangan yang salah, sebelum sempat sang empunya rumah mengganti dengan yang baru. Akhirnya, mereka menciptakan produk kunci dengan fasilitas, yang apabila difungsikan, pintu rumah dimaksud tidak akan dapat dibuka dari luar, baik menggunakan kunci duplikat apapun, bahkan oleh kunci asli sekalipun.</p>
<p>Produk tersebut kebetulan baru saya baca dari kertas koran pembungkus nasi sarapan saya, tertanggal 18 Februari 2009. Membacanya, membuat saya langsung teringat masa remaja saya, ketika mengharuskan saya pulang malam, dan harus membangunkan orangtua saya terlebih dahulu, sehingga salah satu dari mereka membukakan pintu. Orangtua saya bisa memastikan secara visual, kondisi fisik saya baik-baik saja setelah pulang terlambat. Hal ini tidak akan terjadi manakala setiap angota rumah memiliki kunci, dan bisa pulang sekaligus masuk rumah, kapanpun mereka mau, kalau perlu tanpa sepengetahuan orang rumah.</p>
<p><em>Mengomentari MasterLock “Nightwatch DeadBolt” yang tertulis di Klasika KOMPAS, tertanggal 18 Februari 2009. </em><em>Mereka menuliskan sub judul advertorial tersebut, meningkatkan Pengamanan Kunci di Rumah. PT Tunas Wijaya Sakti 021-3900217, fax: 021-3900219 e-mail: tunas(et)cbn.net.id</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/67/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/67/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/67/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=67&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2009/06/01/kembali-ke-tradisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Don Juan dari Dengok Pinggiran (Bagian Ketiga)</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2009/05/26/don-juan-dari-dengok-pinggiran-bagian-ketiga-2/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2009/05/26/don-juan-dari-dengok-pinggiran-bagian-ketiga-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 09:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[62007]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu cerita menarik tentang rumah besar peninggalan Mbah Dawoed Hardjosoewito di Dengok yang bisa aku ceritakan. Mbah kung memiliki rumah besar dari kayu jati, dengan 6 kamar, dan langit2 yang luar biasa tinggi. Sepertinya ada 8 meter tinggi atapnya dari lantai. Jikalau dipasang eternity, aku memperkirakan ketinggiannya tidak kurang dari 4 meter dari lantai.&#160;&#8230; <a href="http://parikesit.wordpress.com/2009/05/26/don-juan-dari-dengok-pinggiran-bagian-ketiga-2/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=64&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu cerita menarik tentang rumah besar peninggalan Mbah Dawoed Hardjosoewito di Dengok yang bisa aku ceritakan. Mbah kung memiliki rumah besar dari kayu jati, dengan 6 kamar, dan langit2 yang luar biasa tinggi. Sepertinya ada 8 meter tinggi atapnya dari lantai. Jikalau dipasang eternity, aku memperkirakan ketinggiannya tidak kurang dari 4 meter dari lantai. Rumah dengan design sederhana, berbentuk persegi panjang, dengan luas bangunan lebih kurang 400m2. Pakdhe ku, pernah bercerita, bahwa bagian rumah tersebut pernah di bom dari udara, dan meninggalkan lubang besar menganga. Cerita yang sungguh menarik, apalagi bila dihubungkan dengan posisi dan kemampuan Mbah Dawoed hardjosoewito di BPM. Konon peristiwa tersebut terjadi pada masa PD2. Dugaan sementara, posisi strategis mbah dawoed di BPM, sudah bocor di tangan musuh. Semua data beliau sudah berada di tangan mereka, dan rencana pembunuhan pun dilancarkan oleh lawan. Kemungkinan, pihak Jepang lah yang melakukan pemboman ke rumah tersebut, untuk lenyapkan keberadaan Mbah Dawoed Hardjosoewito, sekaligus sebagai upaya sistematis untuk melemahkan potensi2 ekonomi strategis Belanda. Sayangnya, dugaan ini sangat-sangat tidak valid, karena tidak ada satupun (pihak maupun dokumen) yang bisa memberikan klarifikasi.</p>
<p>Keberadaan rumah besar Mbah Dawoed di desa Dengok Pinggiran, ternyata juga melahirkan perkiraan baru dan pemahaman sementara tentang beliau. Sebagai pribumi yang memainkan peran strategis di BPM, boleh jadi menimbulkan friksi. Pertama, status pribumi, sepertinya sangat sulit untuk menyamakan dengan bangsa mereka. Apalagi dengan taraf pendidikan Mbah Dawoed yang sedemikian (Baca bagian kedua). Kedua, kemampuan Mbah dawoed sangat mahal sekaligus strategis nilainya bagi BPM. Tetap memakai Mbah Dawoed, bagi BPM adalah keuntungan besar, tapi juga sekaligus menimbulkan kecemburuan di kalangan pegawai strategis mereka.</p>
<p>Jamaknya, pejabat atau kita sebut saja ahli strategis, akan ditempatkan dan juga diberikan fasilitas secara ”terlindung” dan terjaga di sebuah kompleks. Daerah cepu, semenjak BPM sudah merupakan kilang minyak strategis, lengkap dengan perumahan bagi kalangan pejabat dan ahli2nya. Seharusnya, kalau mengingat posisi mbah Dawoed, beliau seharusnya tinggal di daerah kompleks perumahan BPM. Tapi beliau malah membangun (atau di bangunkan, tidak tahu pasti), sebuah rumah besar di tepian bengawan solo?? Kalau lah ini bukan merupakan keputusan pribadi Mbah Dawoed untuk memiliki Rumah diluar kompleks, dugaan sementara lainnya adalah bentuk BPM dalam ”menyembunyikan” team strategisnya, dengan membaurkannya dengan rakyat biasa. Umumnya, kalau benchmark dengan para Pejabat PERTAMINA sekarang, hanya orang2 strategis dan di jabatan atas saja di PERTAMINA yang memiliki asset besar milik pribadi diluar kompleks perumahan PERTAMINA. Mbah Dawoed, memiliki asset besar (saya bilang demikian) diluar kompleks fasilitas BPM, so, apakah beliau pejabat strategis di BPM dengan status sangat dilindungi dan rahasia? Wallahu a’lam.</p>
<p>Kini, rumah tersebut masih ada dan ditinggali oleh Budhe. pakdhe, dan beberapa sepupuku. Setiap kali luapan Bengawan Solo, dipastikan, rumah ini selalu terendam, walaupun pondasi rumah cukup tinggi (apalagi kalau dibandingkan dengan rumah2 sekitar), lebih kurang satu meter dari permukaan tanah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=64&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2009/05/26/don-juan-dari-dengok-pinggiran-bagian-ketiga-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Don Juan dari Dengok Pinggiran (Bagian Kedua)</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2009/03/25/don-juan-dari-dengok-pinggiran-bagian-kedua/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2009/03/25/don-juan-dari-dengok-pinggiran-bagian-kedua/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Mar 2009 05:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[62007]]></category>
		<category><![CDATA[Myoldstory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Don Juan dari Dengok Pinggiran adalah cerita tentang Mbak Kakung Dawoed Hardjosoewito Almarhum. Cerita ini, untuk mengingatkan kembali akan sejarah para pendahulu dan menyikapi, darimana keluarga kita berasal. Ini adalah bagian kedua dari Cerita saya ini. <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=43&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bagian kedua dari tulisan berjudul sama ini tidak tahu akan saya selesaikan sampai berapa bagian. Yang pasti, akan saya sampaikan secara bertahap, sesuai dengan apa yang saya ingat dan saya catat. Selamat menikmati.</em></p>
<p>Dari menambang pasir inilah, dari cerita pakdhe dan budheku, nasib mengubahnya menuju kegemilangan. Secara tidak sengaja, Dawoed remaja mengenal perbedaan pasir yang mengandung minyak dengan yang tidak. Sampai disini, aku tidak mendapatkan cerita yang lebih detil lagi, termasuk bagaimana ceritanya sampai Mbah kakung ku itu bisa masuk ke jajaran team pencari sumber minyak untuk perusahaan minyak Belanda kala itu (<em>Mestinya <strong>Batavia Petrolium Maskapijt</strong>, karena perusahaan minyak Belanda waktu itu hanya BPM ini. Ada lagi yang sebelumnya, Koninklijke, yang ini badan usaha dari Royal Dutch. Sementara, untuk tempat pastinya dimana perusahaan tempat Mbah Dawoed berkiprah, masih terus coba ditelusuri. Tapi untuk tulisan ini, saya memakai BPM saja untuk mempermudah, dan akan direvisi, setelah ada pembuktian lebih lanjut. Trims</em> ). Bukti otentik dari cerita ini juga belum bisa kudapat. Walaupun, sedikit flash back nih, sesaat setelah mbah kakung ku ini sedo, almarhum bapak dan aku membongkar “peti harta” mbah kung, dan menemukan album2 foto kuno tentang kilang minyak di jawa, sumatera, dan Kalimantan, tapi tanpa adanya gambar mbah kakung ku ini dalam satu frame dengan gambar kilang minyak itu, sangat kurang meyakinkan untuk memberikan bukti valid tentang posisi mbah kung di BPM kala itu. Lebih sayang lagi, aku juga tidak tahu lagi keberadaan foto2 kuno itu sekarang.</p>
<p>Perkiraanku, mbah kakung ku kala itu memiliki posisi yang sangat strategis bagi Belanda, dalam menemukan sumber2 minyak bumi baru yang mampu menjadi sumber devisa bagi Kerajaan Belanda. Pribumi, memiliki kemampuan yang bisa mendatangkan gulungan Gulden, pasti membuat BPM tidak segan untuk memberikan bayaran yang setimpal. Mungkin buat BPM, bagaikan mendapat durian runtuh, memperoleh seorang warga pribumi, dengan kemampuan penting, yang bila itu dimiliki oleh orang asing atau warga Nederland misalnya, akan menuntut bayaran se alaihim. Mirip kondisi sekarang, dimana Tenaga Kerja Asing di Indonesia dihargai jauh lebih mahal. Orang asli Hindia Belanda, ternyata ada yang memiliki kemampuan alami menemukan sumber2 emas hitam.</p>
<p>Jikalau memungkinkan, ingin rasanya suatu saat nanti aku mencari dokumen di kuno BPM yang berkaitan dengan Mbah Kakungku. Yang kutahu, Belanda memiliki tradisi pengarsipan yang cukup bagus. Barangkali, sedikit meluangkan waktu berjalan-jalan di Arsipnas, Pasar Minggu, akan memberikan secercah dokumen otentik tentang kiprah seorang Dawoed Hardjosoewito di masa penjajahan Belanda. Well, mungkin anda mencemoh, karena saya ternyata keturunan seorang pribumi yang lebih memihak kepada Penjajah. Tapi boleh dunk, aku membela diri, karena dari informasi yang aku dapat dari pakdhe dan Budheku, Mbah Dawoed hardjosoewito bahkan tidak pernah menyelesaikan Sekolah Rakyatnya. Sehingga, kalau masalah keberpihakan dipertanyakan, bolehjadi di masa itu, beliau tidak memikirkan. Yang pasti adalah, Mbak kakkungnu bekerja untuk BPM untuk menghidupi diri dan keluarga. Titik. Nasionalisme, waahh, kayaknya waktu itu hanya punya anak2 STOVIA deh. Hehehehe.</p>
<p>Tapi yang jelas, nyaris setiap warga asli desa dengok pinggiran, pasti mengenal jelas nama dawoed hardjosoewito, sebagai orang yang dulunya memiliki tanah paling luas di desa dengok, dan rumah paling megah disana. Dari ingatanku, mbah kakungku memiliki koleksi beberapa barang yang boleh dikata cukup mewah pada masanya. Beliau memiliki dua buah Gramophon (yang biasanya hanya kulihat di gambar saja) dengan model yang berbeda. Karena itu juga, seringkali aku menemukan piringan hitam, yang berisikan langgam keroncong dan juga lagu2 Belanda. Sayang, waktu itu aku masih kecil dan tidak memperdulikan nilai historik dari koleksi mbah kakungku itu. Piringan hitam yang kuyakin sudah sangat langka itu, seringkali menjadi bahan permainan sepupu2 ku yang lebih besar, dan ada yang menjadi hiasan dinding dengan cara dipaku. Sayang ya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=43&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2009/03/25/don-juan-dari-dengok-pinggiran-bagian-kedua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sang Gembel Milyarder</title>
		<link>http://parikesit.wordpress.com/2009/03/23/sang-gembel-milyarder/</link>
		<comments>http://parikesit.wordpress.com/2009/03/23/sang-gembel-milyarder/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 05:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>parikesit</dc:creator>
				<category><![CDATA[62007]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://parikesit.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Kayaknya baru kali ini aku pengen nulis soal film yang kemasannya India, Bahannya India asli, tapi kokinya, Orang Inggris. Jadilah aku kayak nonton clip musik, tapi pake cerita dan lebih lama dari sebuah clip, maklum, 120 menit. Danny Boyle, koki film ini, adalah sutradara yang belum lama malang melintang di jagad film laris, tapi semenjak&#160;&#8230; <a href="http://parikesit.wordpress.com/2009/03/23/sang-gembel-milyarder/">Read&#160;more</a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=39&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.foxsearchlight.com/cache/flipbook/44/dev_freida2.jpg"><img class="alignleft" title="Slumdog" src="http://www.foxsearchlight.com/cache/flipbook/44/dev_freida2.jpg" alt="" width="728" height="435" /></a>Kayaknya baru kali ini aku pengen nulis soal film yang kemasannya India, Bahannya India asli, tapi kokinya, Orang Inggris. Jadilah aku kayak nonton clip musik, tapi pake cerita dan lebih lama dari sebuah clip, maklum, 120 menit. Danny Boyle, koki film ini, adalah sutradara yang belum lama malang melintang di jagad film laris, tapi semenjak Transporter menjadi tontonan alternatif <em>bak-bik-buk</em> selain sequel James Bond, maka nama dia semakin menanjak. Belakangan, tak baca dari Kapanlagi, Pakdhe Boyle sudah ditawari untuk membesut sequel James Bond selanjutnya.</p>
<p>Well, seperti tak bilang diatas, nonton film ini kayak nonton clip musik. Gambar2 nya enak dilihat, padahal kalau diamati sebener-benernya, lokasinya sebagian besar merupakan kawasan kumuh di Mumbai. Tapi berkat DOP nya yang ciamik, dia menebarkan nuansa sephia dalam nyaris keseluruhan gambar , nyaris aku ndak menemukan paduan warna hijau, kuning, hitam, yang bisa bikin neg, kala melihat kawasan kumuh. Daerah yang penuh dengan sampah, di frame dengan angle yang enak di mata, trus relatif adhem.  Yang ada adalah warna biru, kuning, merah, sampah2 yang bertumpuk dan menjadi latar belakang, berpadu dengan tempo lambat- cepat, dan juga alur flashback yang <em>sauprit-sauprit</em> dalam pengambilan gambarnya.</p>
<p>Soal ceritanya, waah, biasa saja dan relatif sederhana. Adaptasi dari novel Vikas Swarup, kata TEMPO, berhasil mendongkrak penjualan novel aslinya, setelah film ini memenangi 8 penghargaan Oscar. Novel dengan sampul yang sama dengan poster filmnya terjual 35 ribu kopi hanya dalam satu setengah bulan, tulis TEMPO. Disini, aku gak usah banyak menuliskannya, karena bisa dibaca di situs <a href="http://anggriawan.web.id/2009/01/slumdog-millionaire.html" target="_blank">pak anggriawan</a> atau di <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Slumdog_Millionaire" target="_blank">Wikipedia</a> saja ya. Di <a href="http://www.google.co.id/search?hl=id&amp;q=slumdog+millionaire&amp;btnG=Telusuri+dengan+Google&amp;meta=&amp;aq=f&amp;oq=">Google</a> juga bertebaran kok.</p>
<p><a href="http://www.iwatchstuff.com/2007/03/01/danny-boyle-ponte.jpg"><img class="alignnone" src="http://www.iwatchstuff.com/2007/03/01/danny-boyle-ponte.jpg" alt="" width="400" height="219" /></a>Dalam film ini, kita bisa mempertanyakan, sebesar apa kejujuran itu dinilai. Terus kalau yang pasti, yah cerita keberuntungan yang luar biasa dari seorang anak manusia. Lha wong sedari kecil dia selalu menderita dan mengalami berbagai kisah yang menyedihkan dan kayaknya meninggalkan bekas trauma yang cukup dalam, sehingga dia bisa ingat setiap detil cerita masa lalunya. Lha kok <em>ndilalahnya</em>,   dalam ajang WWTBM India yang di Host oleh Prem Kumar (Anil Kapoor), setiap pertanyaan yang diajukan, itu seiring sejalan dengan perjalanan kisah hidupnya yang pait.Sebut saja ketika jawaban pertanyaannya adalah Amitabachan, dan itu merupakan pengalaman masa kecilnya, ketemu Amitabachan (Di film ini hanya terlihat tangan dan heli-nya saja), dapet tandatangannya tanpa ngantri, setelah nyebur di kubangan &#8220;<em>maaf</em>&#8220;, tinja, lalu foto bertandatangan Mr Bachan itu dijual kakaknya. Belum lagi waktu ditanya gambar dalam pecahan $100 Amerika, yang dapat dijawab dengan mudah, karena pengalaman yang mendalam ketika ketemu teman yang buta (karena sengaja dibutakan oleh Germo pengumpul anak2), dan juga karena aktifitas dia di Taj Mahal, sebagai guide, yang mendapatkan upah berupa dollar Amerika. Trus pertanyaan apa yang dipegang dewa anu(siapa ya.. saya lupa&#8230;), yang akhirnya dijawab dengan ingatan jelas, ketika ibunya dianiaya oleh segerombolan orang, karena masalah Agama, dan dia harus melarikan diri bersama kakaknya, dan kebetulan, di setiap jalan pelariannya kok ya menemukan dewa itu. Yang paling seru, kayaknya waktu Salim menjawab pertanyaan terakhir. Senyum mengembang, karena ingatannya melayang ke masa perkenalan pertamanya dengan Latika, dan dilempar guru sekolahnya dengan buku yang menceritakan tentang jawaban pertanyaan yang diajukan dalam akhir WWTBM itu.  Adapaun kalau dia akhirnya disiksa polisi, saya pikir karena host Prem Kumar yang malu, karena ngasih jawaban, tapi salim menjawab tidak sesuai dengan jawaban itu.</p>
<p>Tapi tetap, saya menangkap sindiran2 halus dalam film ini. Misalnya saja, ketika Salim ditanya Inspektur Polisi (Irfan Khan), kenapa Salim bisa tahu gambar siapa di pecahan $100 Amerika, tapi tidak tahu siapa dalam pecahan 100 Rupee.  Ada pesan halus, dimana nasionalisme India, yang mulai meluntur, berganti dengan keekonomian global yang dimotori negara Paman Sam. Masih ada lagi, kalau melihat siapa pembuat film ini, maka saya dengan mudah menyimpulkan, inilah jawaban industri perfilman Inggris, untuk melawan banjir film2 Bollywood. Tidak dengan melawan, tapi dengan merangkulnya. Toh, Poundsterlingnya nggak lari ke India khan? Lalu mengenai keberuntungan yang bertubi-tubi, tapi masih tetap realistis, karena Salim juga sempat lupa.</p>
<p>Bagi yang nggak suka film India, kalau pengen nonton film ini nggak usah terlalu khawatir akan suguhan &#8220;tarian di segala suasana&#8221;. Gaya klasik film Bollywood ini hanya ditemukan di ending cerita saja, setelah Salim ketemu Latika di Stasiun Kereta Api. Tapi tabuhan kendang India, cukup mantab digeber di setiap scene yang sesuai. Juga romantisme Salim karena sudah putus asa mencari Latika, kemudian ikut WWTBM, sebagai ajang untuk mencari Latika. Mungkin kalau Danny boyle membuat Salim akhirnya kehilangan uang kemenangan akhirnya, karena ketika Salim memakai fasilitas terakhirnya <em>Phone a Friend</em> dan menemukan suara Latika di nomor HP kakaknya, maka jawaban dari niatan salim ikut WWTBM sudah terjawab dan film langsung selesai, akan lebih sederhana lagi. Tapi ternyata dia memilih double happy ending, dengan salim ketemu Latika, dapet hadiah pula. Selebihnya, saya menganggap, ini film kampanye Visit Mumbai 2009, karena eksploitasi kenyatan sebuah India, dalam sebuah film yang enak sudut pandangnya, lengkap dengan potret kemiskinan, dalam frame yang indah, sehingga kita nggak merasa jijik apalagi jengah dengan sajian potret kemiskinan itu.</p>
<p>Kata <strong>Kapanlagi.com</strong> &#8211; <em>Pengamat industri film menyatakan, film yang mengangkat tema sosial dari Mumbai, SLUMDOG MILLIONAIRE, yang menghabiskan &#8216;hanya&#8217; US$15 juta untuk pembuatannya, kini telah meraih  pendapatan total sebesar US$217 juta</em>.</p>
<p>Kata <strong>parikesit.wordpress.com</strong>: <em>kalau ke India, jangan lupa pake kacamata biar adhem melihat kekumuhan yang realistis di India sana</em>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/parikesit.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/parikesit.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/parikesit.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/parikesit.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/parikesit.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/parikesit.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/parikesit.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/parikesit.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/parikesit.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/parikesit.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/parikesit.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/parikesit.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/parikesit.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/parikesit.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=parikesit.wordpress.com&amp;blog=94652&amp;post=39&amp;subd=parikesit&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://parikesit.wordpress.com/2009/03/23/sang-gembel-milyarder/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f49dea83d8b68129855e4e7365291d2d?s=96&#38;d=" medium="image">
			<media:title type="html">parikesit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.foxsearchlight.com/cache/flipbook/44/dev_freida2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Slumdog</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.iwatchstuff.com/2007/03/01/danny-boyle-ponte.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
