Halaman Arsip 2

24
Feb
09

Mak jegagik, Diambung Jaran

Nalika aku mlaku-mlaku nyang Malioboro, aku duwe pengalaman lucu tur nganyelke. Aku meh wae diambung jaran ning Malioboro. Iyo, meh diambung jaran sing narik andhong kui! Dadi ngene ceritane. Aku kan mlaku ning sisih tengen dalan Malioboro, gara-gara lorong kono kuwi kebak wong dodolan, aku mlaku nyang jalur lambat, jalure becak, pit onthel, lan andhong. La kok ndililahe aku lagi rada ra nggathekake dalan, mak jegagik ana jaran mengo nyang ngarep raikul. Mung sak nyuk-an nek aku ora owah, aku mesti wis diambung tenan. Bayangke wae lambe jaran sing genyir-genyir umbelen ngono kae kena raimu. Lak yo kojor to ya? Pengalaman (meh) diambung jaran kui uga dadi salah siji pengalamanku sing ora dak lalekne ning Jogja.

Sebuah situs blog yang sepertinya cukup baru, tapi luar biasa bisa bikin aku ngakak membaca isinya. Maaf nih, buat yang nggak ngerti bahasa jawa. Tapi lebih kurang terjemahannya begini:

Ketika aku sedang jalan2 ke Malioboro, aku punya pengalaman lucu dan bikin kesal. Hampir saja aku dicium kuda di Malioboro. Ya, kuda yang biasa narik andhong itu.

jadi begini ceritanya. Aku sedang berjalan di sisi sebelah kanan jalan Malioboro. Gara2 lorong itu penuh dengan orang berjualan, saya berjalan di jalur lambat, jalur untuk becak, sepeda, dan andhong. Lha kok sialnya aku nggak merhatiin jalan, mak jegagik (saya nggak tahu padanan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar, maaf) ada kuda noleh tepat di depan mukaku. Tinggal sepersekian senti saja aku bergerak, aku pasti sudah tercium beneran.

Bayangkan saja, bibir kuda yang selalu basah beringus mengenai mukamu? Lak yo kojor to? Pengalaman nyaris dicium kuda itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan di Jogja.

Memang gaya bahasanya mirip anak SD sedang belajar mengarang bahasa Jawa. Tapi buatku, tulisan ini kayak oase kultural, yang sangat menyegarkan jiwa. Bagaimanapun juga, darah jawa yang ada di dalam tubuhku, tetap akan selalu mencari asal mulanya.

Di situs berikut, anda bisa membacanya sendiri. Disini

nb: Tulisan ini untuk mangayubagya keinginan istriku tersayang yang pengen ke Jogja, karena seumur hidup belum pernah jalan2 ke Jogja. Gaya Backpacker atau Koper Sweety.

22
Feb
09

Tertinggalnya celana dalam di gunung salak

Apa yang anda rasakan, ketika masuki ke sebuah kamar mandi, dan anda menjumpai celana dalam tersampir dengan indahnya. Mungkin sebagian akan merasa jengah dan neg, sementara yang lain ada yang malah menjadikannya sarana “berfantasi”. Terserah bagaimana anda saja. Tapi buat saya, jengah, neg, dan campur gedeg, kalau menjumpai situasi tersebut. Ghalibnya, seseorang yang telah menggunakan kamar mandi tersebut kemudian meninggalkan “barang” (apalagi yang seharusnya dikategorikan tersembunyi), pastinya kalau tidak karena alpa pasti karena teledor. Masalahnya baru muncul, ketika fasilitas publik dalam operasionalnya masih meninggalkan jejak pakai pengguna terdahulunya, yakni terjadinya pelanggaran hak pakai. Jelas, pelanggaran harus dikenakan sanksi, entah moral maupun denda material (Dan sebaiknya hal itu disadari sebagai sebuah konsekuensi dari keteledoran yang mengganggu kenyamanan orang lain). Dampak dari tertinggalnya celana dalam di kamar mandi, akan beragam. Bagi pelaku, umumnya baru merasa kehilangan setelah beberapa waktu kemudian. (baru nyadar kalau ada barangnya yang raib). Jelas dia rugi karena stock pakaian dalamnya berkurang tanpa alasan yang memuaskan (alasan lupa kebanyakan dinilai mengecewakan). Akan tetapi, kerugian ini bakal berbuah rentetan kerugian dari pengguna kamar mandi berikutnya. Berkurangnya space gantungan baju di kamar mandi misalnya. Jamaknya, orang mandi pasti melepas pakaian dan kemudian menyantelkannya di tempat yang strategis (terhindar dari cipratan air atau bahkan terguyur). Jikalau space cantelan (lagi-lagi di fasilitas publik, yang namanya cantelan relatif minim) sudah terpakai secara tidak sengaja oleh celana dalam yang tertinggal, niscaya resiko jatuhnya pakaian akan semakin besar. Belum lagi gangguan bau (jikalau celdam itu mengandung aroma khas) yang umumnya sangat-sangat mengganggu pernafasan dan kenyamanan dalam menjalankan ritual mandi. Berikutnya, pandangan mata, akan menjadi elemen yang paling mendapatkan friksi disaat berada dalam posisi siap mandi. Salah-salah, hanya karena ada terasa nyempil di pandangan mata inilah yang bakalan mengaburkan lagi niat kukuh sesorang untuk mandi di kamat mandi itu. Kabur….rrrrr. Walhasil, menempatkan celana dalam secara tidak sengaja di kamar mandi, lebih banyak mendatangkan efek merugi. Apalagi jikalau dilakukan secara sengaja dan tertinggalnya di puncak gunung salak sana (Wadduh). Untunglah wa syukurilah, belum ada satupun produsen celdam yang memiliki ide untuk mempromosikan produk terbarunya dengan menggantungkan sampel di kamar mandi (apalagi di kamar mandi umum). Meskipun unik, ide ini rasanya sangat tidak efektif dan cenderung mengganggu. Lebih baik mereka memperagakannya di atas catwalk, seperti yang biasanya dilakukan Victoria Secret (kemudian di shoot Fashion TV) saat mereka meluncurkan produk pakaian dalam terbaru mereka. Bakal lebih banyak lagi mata pria yang jelalatan untuk kemudian berinisiatif untuk membelikan produk baru tersebut. Untuk siapa? Terserah, bisa untuk istri, pacar, selingkuhan, atau bahkan untuk dipakai sendiri (Wakakakak)

NB: Salah satu cara menarik perhatian pembaca adalah memberikan judul tulisan yang eyecatching dalam tulisan kita. Ini yang sedang saya lakukan dalam tulisan kali ini. Tadinya saya mau hubungkan dengan para 7 pendaki Universitas Yarsi yang tempo hari menghilang di Salak dan merepotkan semua pihak. Padahal mereka baik-baik saja, dan hanya malas untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga mereka masing-masing. Tapi ya sudahlah, nanti saja dibahasnya di postingan yang berbeda.

03
Feb
09

Mari berbahasa lempar sepatu

Sudah sekian lama ndak punya amunisi buat loading kembali blog ini, akhirnya baru sekarang. Walaopun di rumah ada laptop tapi nulis isi blog dari luar rumah, serasa lebih banyak punya serpihan ide buat membentuk amunisi yang benar-benar ampuh untuk di tayangkan di blog.  Secara umur, blog ini punya sejarah lumayan lama, bahkan pernah menjadi footnote dari setiap email saya di yahoo, maka sudah seharusnya saya juga menghargai keberadaan blog ini dengan menuliskan berbagai hal, baik atau buruk ndak masalah wong namanya blog saya pribadi.

Sebenarnya, yang bikin saya ndak nulis-nulis adalah kebingungan, apakah dalam tulisan di blog saya ini sudah menggunakan bahasa yang termasuk baik, bahasa yang benar, atau bahasa yang baik dan benar? Sudah bingung, masih ditambah lagi kemalasan tingkat tinggi saya untuk merunut kembali, apakah sesungguhnya pengertian bahasa yang baik dan pengertian bahasa yang benar tersebut. Jadilah, ndak nulis-nulis apapun…….
Kata banyak orang, kita orang Indonesia ini dibenturkan pada dua masalah kebahasaan: ketepatan kaidah, serta ketepatan situasi dan kondisi dalam berbahasa. Ketepatan kaidah berkaitan dengan tata bahasa, sedangkan ketepatan situasi dan kondisi berbahasa berkaitan dengan prinsip komunikasi – dengan siapa kita berbicara, kepada siapa kita berbicara, dalam keadaan apa kita berbicara, plus untuk kepentingan apa kita berbicara.
Bahasa yang bener, idealnya fardlu a’in taat kaidah. Sang pembahasa, harus memenuhi semua komponen, mulai dari ketepatan kaidah tata bahasa, intonasi, serta ekspresi. Yang barusan saya tulis, umumnya dilakukan dalam situasi formal yang cenderung kaku dan bersifat satu arah dalam situasi lisan ( sebuah pidato misalnya)
Lalu, bahasa yang baik selalu menilik kesesuaian situasi dan kondisi pembicaraan. Baik saat berbicara atau menulis, kita akan menyesuaikan bahasa dan cara berbicara atau menulis kita dengan yang diajak bicara dan situasi serta kondisi pembicaraan. Misale saja, kita ndak mungkin berbahasa ilmiah dengan seorang anak TK, trus nggak pake bahasa Indonesia yang baku di buku harian, atau Pak Beye pasti ndak akan berbahasa “gaul” saat berpidato (Secara beliau itu presiden gitu).
Lalu semakin sulitkah kita berbahasa yang baik dan benar kalau demikian panjang penjabaran tetek bengeknya? Satu tips saja, gunakan bahasa sesuai dengan sikon. Tulisan ilmiah adalah salah satu bentuk kebahasaan yang menggunakan bahasa yang baik dan benar. Presentasi, seminar, lokakarya, simposium, dan sejenisnya adalah juga bentuk-bentuk kebahasaan yang menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Kalau kita termasuk yang mampu menyampaikan bahasa kita kepada orang lain dan mampu diterima lawan bicara kita dengan gamblang, berarti kita sudah bisa dianggap berbahasa yang benar (Dan juga kita termasuk kaum dengan peradaban yang lebih tinggi, karena hanya mereka yang mau dan sempet menterjemahkan rangkaian vokal dan konsonan serta mencari padanan maksud dengan tata cara bahasa yang sudah umum). Trus jikalau sudah mencapai tahapan tersulit dalam berbahasa yang baik dan benar bagaimana? Well, banyak cara, misalkan dengan bahasa Tarzan, bahasa isyarat tangan, atau dengan cara yang lebih ekstrim lagi. Melempar sepatu ke muka orang misalnya, itu juga termasuk cara berbahasa, meskipun itu sudah jauh dari kaidah baik dan benar.

Makanya, daripada pusing nggak nulis-nulis, trus nggak bisa melempar sepatu, ya saya nulis saja seenak saya. Hehehe.

nb: Mengomentari Tragedi lempar sepatu terhadap PM China Wen Jiabao di Universitas Cambridge Inggris dan In Memoriam Bush dan sepatu wartawan Irak.

05
Nov
08

Kutukan Dapur

Dear All, cerpen ini tulisan dari Eka Kurniawan, Cerpenis yang bergiat di Serikat Pembaca Dunia, dan saat ini tinggal di Jakarta. Saya suka isi dan permainan data sejarah sebagai detil cerpennya.

AWALNYA Maharani berharap menemukan resep baru di musium kota, tapi inilah yang ditemuinya:
Pada suatu muasal yang jauh, sebuah kapal penangkap ikan Bugis remuk dihantam badai Atlantik. Satu-satunya yang tersisa, seorang lelaki muda dengan buntalan kulit berisi bumbu, diselamatkan kapal dagang Portugis. Mereka memberinya makanan Eropa yang serba tawar itu, membuatnya lari ke dapur dan menampilkan diri sepenuhnya sebagai penguasa mutlak bumbu-bumbuan. Malam itu seluruh penghuni kapal terbakar lidahnya, menemukan sensasi yang tak pernah ditemui bahkan sejak zaman nenek moyang mereka.
Di antara begitu banyak buku sejarah dan sejenisnya, hanya satu ensiklopedi Spanyol terbitan tahun 1892 yang menyebut nama lelaki itu, tak peduli sebesar apa pun sejarah yang ditimbulkannya. Dilupakan sejarah, tapi kepadanyalah kita mesti berterima kasih telah membuat para pedagang Barat berdatangan, bersama tikus-tikus yang menyelundup di kapal-kapal Spanyol, datang untuk membeli bumbu-bumbu tersebut dari tangan pertama. Itulah awal kerakusan Eropa, dan orang-orang Belanda bahkan membawa pula perusahaan besarnya kemari.
Sesungguhnya orang-orang Belanda yang kemudian menguasai pulau-pulau bumbu ini tak pernah sungguh-sungguh menguasai bumbu masak yang mereka dambakan. Pemberontakan dramatik Diah Ayu, sebagaimana akan diceritakan, merupakan bukti otentik mengenai hal itu.
***
Maharani tak pandai memasak dan merasa dikutuk suaminya untuk mendekam di dapur, dan sekali waktu di tempat tidur. Kini ia terpesona menyadari dirinya tinggal di negeri yang telah diciptakan Tuhan sebagai surga bagi segala yang tumbuh.
Dan segala yang tumbuh, hampir bisa dimakan. Kukatakan hampir, karena beberapa bisa bikin kau sekarat jika memakannya, tapi bikin kau hidup jika kau memakannya dalam keadaan sekarat. Itu rahasia-rahasia yang paling sulit, hanya dikenali jika kau telah mengenalnya selama berabad-abad, diturunkan dari satu generasi ke generasi lainnya.
Mati kelaparan merupakan hal konyol yang bisa kau lakukan di tempat ini, meskipun kenyataannya sering terjadi. Ada hutan lebat dengan buah-buahan yang bisa kau makan, juga daun dan bahkan batangnya, serta getahnya. Ada ladang-ladang pertanian. Ada sungai dan danau dan telaga di mana ikan berbiak lebih cepat dari manusia; dan jangan tanya berapa luas laut yang dimiliki. Dan hewan-hewan liar tampak sejinak merpati. Lemparkan sesuatu, dan ia akan tumbuh: jika bukan mimpi, tentunya surga.
Di sinilah orang seperti Alfred Russel Wallace tercengang-cengang pada ribuan spesies, yang hidup dan yang mati. Di sini pula orang seperti Eugene Dubois mengaduk-aduk yang pernah hidup. Tapi di antara semuanya, tentunya para pedagang yang segera berhitung berapa banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari negeri penuh harta karun ini.
***
Selama bertahun-tahun Maharani hanya tahu membikin anak, menyiapkan sarapan pagi, makan siang dan malam. Kini ia tahu orang Belanda pernah menetap selama lebih dari tiga abad.
Mereka mendirikan perusahaan, sebelum diambil alih kerajaan. Mereka mengirim seorang Gubernur Jenderal, yang segera mengirim mesin-mesin birokrasinya ke seluruh negeri: regent, asisten regent, resident dan kontroler. Mereka menaklukkan raja-raja kecil, menjadikannya bupati-bupati wilayah, dan bupati menaklukkan wedana, dan wedana menaklukkan lurah. Orang-orang Belanda juga menguasai pedagang-pedagang Cina, yang membeli hak memungut pajak dalam lelang untuk banyak komoditas: rempah-rempah, ternak, garam, juga candu.
Dengan cara itulah bisnis di masa itu dijalankan. Kau harus menanam apa yang mereka inginkan, dan tidak menanam apa yang tidak mereka inginkan. Kita juga membuat jalan-jalan panjang, memasang rel kereta api, membangun pelabuhan, karena itulah yang mereka inginkan. Itu mengawali banyak hal: pos, telegraf dan belakangan lampu gas serta telepon, dan surat kabar.
Di luar mesin birokrasi kolonial ini, ada juga orang-orang partikelir Eropa. Mereka pemilik perkebunan dengan budak-budak pribumi sendiri.
Semua gambaran itu merupakan panggung yang bagus bagi gelora pembangkangan kaum pribumi. Pahlawan-pahlawan dilahirkan, sekaligus digugurkan. Kita telah mengenal sebagian dari mereka, yang lukisannya dipajang di dinding-dinding sekolah. Di antara para pejuang itu, seorang perempuan melakukan pembangkangannya tanpa tombak dan bambu runcing. Ia adalah Diah Ayu, yang berperang dari dapurnya sendiri.
***
Maharani hanya mengenal sedikit resep dan sedikit bumbu. Kebanyakan dihapal dari majalah. Kini terpesona mengetahui seorang perempuan bisa menjadi pahlawan dengan menguasai bumbu masak.
Siapakah perempuan tersebut? Ia juru masak yang terkenal itu, seorang patriotik pujaan anak-anak. Apa yang kita kenal dari dongeng tentang perempuan ini, barangkali didengar sewaktu sekolah dasar, merupakan omong-kosong tak menentu.
Entah bagaimana para pendongeng sampai pada bualannya. Segala yang diceritakan tampak lebih banyak datang dari kepala mereka daripada dari data-data akurat tak terbantah. Sosok Diah Ayu tiba-tiba menjadi aneh, melankolis, dan menyedihkan. Bisa diduga ada upaya-upaya melenyapkannya dari sejarah, dan seandainya terselamatkan, apa yang tersisa hanyalah citra tak benar mengenai dirinya.
Inilah hal-hal salah yang kita kenal dan datang dari dongeng: ia dijual ayahnya pada seorang Belanda pemilik perkebunan karena fakta kecantikannya. Itu tidak benar. Boleh dikatakan ia tak begitu cantik, meskipun benar Belanda itu beberapa kali menidurinya sampai ia punya dua anak. Fakta yang sesungguhnya adalah, ia dibeli karena kemampuan luar biasanya mengelola bumbu, memasak, dan menghidangkan makanan lezat.
Hal salah lainnya: ia diam-diam memberi pelajaran membaca dan menulis pada para pelayan, dan para pelayan ke pelayan lain di rumah-rumah tetangga, hingga kemudian banyak pelayan rumah Belanda menjadi cerdas. Ia mengorganisir mereka dan melakukan pemberontakan di hari Kamis tak terlupakan itu. Itu tidak benar. Diah Ayu buta huruf. Tapi benar ia mengajari para pelayan. Apa yang sesungguhnya ia ajarkan adalah rahasia-rahasia dapur: bagaimana mengelola bumbu masak dengan benar.
***
Bagi keluarga-keluarga Belanda di tanah kolonial, seorang juru masak yang pandai tak hanya merupakan kekayaan keluarga, tapi bahkan harga diri. Mereka bisa memamerkannya dalam perjamuan-perjamuan malam. Itulah mengapa menjadi hal yang tak aneh jika perempuan-perempuan pribumi yang ahli dalam penanganan bumbu masak, mendapati diri mereka diperjual-belikan, atau diculik. Meskipun status mereka dalam keluarga tak pernah lebih baik dari seorang gundik, seorang juru masak pandai tak akan pernah dibiarkan meninggalkan rumah, apa pun risikonya.
Ada beberapa alasan mengapa hal itu terjadi. Pertama, perempuan-perempuan Belanda, sebagaimana lelaki-lelaki mereka, begitu menikmati kemakmuran yang tak terpikirkan di tanah kolonial. Mereka menjadi makhluk-makhluk pemalas, menghabiskan waktu di beranda rumah yang menghadap hamparan perkebunan teh, sambil membaca majalah mode yang dikirim langsung dari Paris. Kedua, bahkan seandainya ada perempuan Belanda mencoba mengenali resep-resep paling istimewa, ia tak akan pernah berhasil memasaknya. Hal ini sebagaimana dilakukan Nyonya Ruthie van Bloom, yang berkeliling mengunjungi keluarga-keluarga pemilik tukang masak-tukang masak terkenal, dan menuliskan resep-resep mereka dalam berjilid-jilid buku. Bukunya tampak meyakinkan, tapi ia lupa ada rahasia-rahasia tak terungkap di dalam bukunya.
Diah Ayu merupakan salah satu dari pemilik rahasia-rahasia tersebut. Ia bisa menciptakan segala sesuatu menjadi makanan mewah dan rahasianya terletak pada bumbu. Tentu saja tak bisa dilewatkan fakta bahwa di pulau-pulau ini begitu banyak hal bisa dimakan. Di sini bonggol pisang bisa kau makan, begitu pula batang belia pohon bambu, sebagaimana pucuk pohon kelapa. Belalang dan laron bisa dimasak dan terhidang di meja makan, sebagaimana siput dan katak. Sangat jelas di negeri ini tak pernah ada orang berdoa meminta manna, sebagaimana orang Israel memperolehnya dari Tuhan.
Tapi berhati-hatilah, ada rahasia-rahasia tersembunyi dalam menu makan siang yang melimpah-limpah seperti itu. Biji buah yang bisa kau jadikan kripik garing barangkali membunuhmu dalam tujuh hari jika dicampur cuka dan garam. Rahasia-rahasia ini tersembunyi di dapur, di tangan perempuan-perempuan yang menggerus bumbu dan merebus umbi-umbian. Beberapa adonan ini menjadi makanan para dewa yang begitu nikmat, beberapa merupakan penyembuh-penyembuh ajaib, dan sisanya pembunuh-pembunuh tanpa ampun. Merekalah, para juru masak, yang bisa membedakannya.
Mengetahui semua ini Maharani jadi sangat malu, sebab tahu pasti dirinya bukan kebanggaan keluarga di dapur. Di musium kota ia semakin suntuk berharap memperoleh pengetahuan tentang bumbu masak dan mengangkat harkatnya sendiri.
***
Sebab kini Maharani tahu, melalui pengetahuannya yang luar biasa itulah bagaimana Diah Ayu melakukan pemberontakannya.
Ia bisa menciptakan adonan-adonan aneh yang bisa membuat seorang lelaki kehilangan birahi untuk selama-lamanya: ia berhasil melakukan itu setelah si Belanda memberinya dua anak. Pada tahap berikutnya, ia semakin memberanikan diri mengolah bumbu-bumbu paling berbahaya, yang bisa membunuh orang dengan begitu wajar. Ia memilih tamu-tamu keluarga tuannya sebagai korban-korban pembunuhan. Tentu saja ia melakukannya secara diam-diam, dengan adonan pembunuh yang tersembunyi di dalam sayur. Dan untuk menghindari kecurigaan-kecurigaan tertentu, ia meramu adonan-adonan yang membuat orang mati seminggu, atau dua minggu, setelah memakannya.
Metode kerjanya sangatlah luar biasa, dan sanggup menjatuhkan korban bahkan lebih banyak daripada perang di front. Setahun sejak pembunuhan pertama, ia telah membunuh lima puluh dua orang Belanda totok. Itu sebagaimana dilaporkan surat kabar mengenai “kematian-kematian wajar yang mencurigakan” di sekitar Batavia. Barangkali satu dua orang bukan korbannya, tapi jumlah yang lebih teliti sangat mustahil untuk disebutkan.
Apa yang kemudian membuat pembangkangannya jadi mengerikan adalah fakta bahwa ia mengajari pelayan-pelayan itu rahasia-rahasia dapurnya, dan pelayan-pelayan itu mengajari pelayan-pelayan di rumah tetangga dalam kesempatan pertemuan-pertemuan pendek mereka. Dengan cepat rahasia tentang bumbu masak, yang sebelumnya hanya diketahui sedikit orang dari generasi-generasi terpilih, tiba-tiba telah diketahui hampir semua juru masak di kota itu. Adalah Diah Ayu yang menjadikannya senjata pembunuh, dan benar bahwa ia mengorganisir semua tukang masak tersebut dalam satu pemberontakan di suatu hari Kamis. Mereka membunuh tuan-tuan mereka secara serempak, tidak dengan pisau dapur, tapi dengan kuah jamur.
Itu hari paling kelabu dalam sejarah kolonial, di mana 142 orang Belanda totok mati dalam sehari. Terjadi di tahun 1878.
***
Akhir dari kisah hidup Diah Ayu si tukang masak telah banyak diketahui. Bahkan seandainya ada sedikit kesalahan, itu tak banyak berarti. Satu hal yang pasti, cukup alasan untuk membuatnya tak lagi disebut-sebut dalam sejarah, kecuali mitos yang sangat menyesatkan. Alasan itu tentu saja akan tampak sangat kelelaki-lelakian, tapi begitulah kenyataannya.
Memang benar ada perempuan-perempuan (dan juga lelaki) yang meniru metodenya. Memasukan arsenik ke makanan, misalnya, dan kemudian makanan itu meracuni orang sampai mati. Tapi metode Diah Ayu jauh lebih bersih, mempergunakan bumbu-bumbu masak yang dikenal sehari-hari, dengan hasil kematian teramat wajar. Itulah barangkali alasan paling masuk akal dilenyapkannya sejarah tentang Diah Ayu si juru masak dari kenangan paling samar sekalipun, kecuali mitos-mitos sesat tentang dirinya.
Hari ini sejarah itu telah dikuaknya dan rahasia dapur ada di tangannya. Maharani pulang dari musium kota dan tahu bagaimana membunuh suaminya di meja makan. Ia akan terbebas dari kutukan dapur dan tempat tidur. Dengan segera.
[2003]

05
Nov
08

Tentang Negeri Kita

Apalah yang bisa anda komentarkan, ketika mengamati potret suatu negara yang memiliki sekitar 200 juta penduduk, terbesar di Asia Tenggara. Ibu kota negara adalah pusat pertumbuhan, tempat terkonsentrasinya lebih 67 persen persebaran uang secara nasional. Pemusatan roda ekomomi di kota-kota besar mengundang penduduk desa berbondong-bondong pergi ke kota untuk mengadu nasib.

Tadjuddin Noer Effendi, ahli kependudukan negeri itu, pernah mengatakan bahwa di sektor tradisional hampir tak ada penambahan lapangan kerja. Produktivitas tanah mengalami kenaikan, tapi tidak menaikkan produktivitas kerja. Penambahan tenaga kerja akibat pertambahan penduduk hanya diserap oleh sektor tradisional yang akhirnya menimbulkan apa yang oleh Clifford Geertz, involusi di daerah pedesaan. Kemegahan ibukota ternyata fatamorgana karena tidak ramah terhadap pendatang baru. Lahan pekerjaan di kota yang tersedia lebih sedikit dibanding jumlah peminat.

Di desa, daya dukung alam mulai terbatas. Pemilikan lahan garapan mengalami penciutan dan dikuasai sekelompok orang. Kalau 20 tahun lalu jumlah petani yang memiliki lahan 0,5 – 1 ha, masih lebih dari 50 persen, kini lebih 75 persen petani memiliki lahan pertanian sendiri di bawah 0,25 ha. Selain itu, perubahan iklim dan menurunnya kualitas tanah membuat kekeringan dan kebanjiran sering terjadi dan menyebabkan buruh tani kehilangan pekerjaan.

Bak lampu neon yang bersinar terang sehingga menarik laron untuk mendekat, kegemerlapannya fasilitas di kota besar membuat penduduk desa berangan-angan, keberuntungan menghampiri kehidupan mereka. Kehidupan kota menjadi semakin menggiurkan karena upah yang relatif lebih tinggi dan pekerjaan yang mudah didapatkan. Motto mereka, asal mau kerja tak akan kelaparan, menjadi pegangan orang-orang desa dengan tingkat pendidikan rendah, yang memutuskan bermigrasi ke kota. Mereka tak ragu masuk ke sektor informal, bahkan menjadi bagian dari kelompok marjinal dan memasuki sektor informal yang “tidak sah”, seperti mengumpulkan barang bekas, puntung rokok, mengemis dan lain-lain. Namun keberadaan mereka ternyata menumbuhkan hubungan saling menguntungkan antara gelandangan dan sektor-sektor di luarnya di kota.

Mereka hidup menggelandang atau di pemukiman-pemukiman kumuh yang sebenarnya tidak layak huni dengan diatur oleh jaringan sebagai pengguna jasa. Maka tidak dapat dihindari menjamurlah pemukiman-pemukiman kumuh dan “pemandangan khas” di sekitar lampu lalu lintas. Bergerombolnya para penanti rezeki dengan menadahkan tangan mengharapkan belah kasih orang-orang yang lewat merupakan sisi lain dari kota besar megapolitan.

Alih-alih mengentaskan para pengemis itu, bukan dengan tindakan singkat memulangkan ke asal masing-masing, yaitu desa, tapi juga dengan mendermakan apa yang kita miliki untuk usaha mereka serta menumbuhkan fasilitas pendorong sektor-sektor ekonomi pedesaan seperti listrik, perbaikan dan pembuatan jalan-jalan serta kelancaran telekomunikasi. Dari fenomena urbanisasi ini yang akhirnya menjerumuskan mereka menjadi pengemis, bak laron yang akhirnya mati, membawa pada satu simpulan, bahwa masalah para urban itu sebaiknya diselesaikan dengan tindakan yang mengangkat harga dirinya. Sudah pasti bahwa usaha ini bukan hanya menggandeng segelintar orang untuk bergerak membantu para urban tersebut tapi berbagai kalangan, mulai dari pemerintah, pelaku bisnis maupun pemerhati lingkungan. Pun tak ketinggalan dengan meningkatkan taraf pendidikan masyarakat desa, agar setaraf dengan mereka yang ada di perkotaan.

04
Sep
08

Lama

Maaf saudara. ternyata berhubung tingkat kepgaptekan dan sekaligus bandwith yang semakin menyempit sehingga akses menjadi lambretta, maka saya nggak sempet menulis yang terlalu panjang. Pengennya saya mau ubah menjadi wordpress yang aksesible dari Hp. tapi apalah daya.. lambat betulll. Kabarnya menyusul ya.

Jadi rindu mudik tersebut bisa disamakan juga dengan rindu akan masa
lampau – Notstalgia. Kata Notstalgia itu diserap dari dua kata dalam
bahasa Yunani “Notos” = kembali kerumah dan “algos” = sakit/rindu.

Rindu mudik atau rindu akan kampung halaman dalam bahasa Inggris
disebut Homesick sedangkan dalam bahasa Jerman “Heimweh” . Weh =
sakit, Heim = rumah, Heimat = tanah air. Kata Heim itu sendiri
diserap dari bahasa Jerman kuno Heimoti = Surga.

Kata Mudik diserap dari kata “Udik” yang berarti desa atau jauh dari
kota alias di udik. Mudik berarti kembali ke udik, ke asal usul kita
oleh sebab itu entah anda tinggal dirumah mewah yang bernilai
ratusan milyar Rp ataupun bermukim di Amsterdam ataupun Beverly
Hills sekalipun, ini tidak akan bisa menggantikan suasana seperti
rumah di kampung halaman sendiri, walaupun itu di udik sekalipun
juga. Jadi tepatlah pada saat kita sedang rindu mudik, kampung
halaman itu bagi kita sama seperti juga “surga”. Pada saat tersebut
saya merasa iri terhadap mereka yang bisa pulang mudik ke kampung
halamannya.

Di Eropa, penyakit rindu mudik ini lebih dikenal dengan
sebutan “penyakit orang Swiss”. Masalahnya sejak abad ke 15 banyak
sekali pemuda dari Swiss yang bekerja sebagai tentara bayaran di
Italy, Perancis, Jerman maupun Belanda. Mereka itu adalah serdadu
bayaran yang pertama, oleh sebab itu juga s/d saat ini di Vatikan
masih tetap mengerjakan para serdadu Swiss.

Kelemahan dari para serdadu Swiss itu mereka sering rindu mudik. Hal
ini membuat banyak serdadu tersebut yang sering minggat maupun bunuh
diri. Maka dari itu pada abad ke 18 di Perancis orang akan dihukum
mati apabila berani menyanyikan atau bersiul lagu kampungnya orang
Swiss “Kuhreihen” (Ranz de Vaches), mereka takut para serdadu
bayaran mereka minggat. Apakah efeknya sama; seperti kalau orang
Jawa mendengar lagu “Benggawan Solo”? Maka dari itu juga banyak
orang Indonesia dirantau senang mendengar lagu musik Keroncong untuk
mengurangi rasa rindu mudik.

Kenapa orang Jawa lebih sering rindu mudik ? Mungkin karena dalam
bahasa Jawa kata “dalem” berarti “saya” dan kata “dalem” itu juga
identis dengan “tempat tinggal”.

Mungkin anda bisa merasakan kehidupan yang jauh lebih nyaman dan
lebih berlimpah ruah di tanah orang, tetapi materi tidak akan bisa
menggantikan maupun mengisi kekosongan maupun kesepian diri dan
batin kita. Semakin lama anda berada ditanah orang semakin terasakan
kekosongan jiwa kita, sama seperti juga HP yang kehabisan batterie.

Pada saat kita mudik, kita bisa nge-charge kembali batin dan
kekosongan jiwa kita. Kita bisa mendapatkan kembali siraman-siraman
rasa kasih dari orang-orang disekitar kita untuk mengembalikan
kembali kegersangan, kekosongan maupun kesepian hidup kita dirantau.
Sama seperti juga pada saat mengisi batterie; ini tidak harus
berbulan-bulan walaupun hanya seminggu atau beberapa hari sekalipun
juga, hal ini sudah dapat mengembalikan kembali keseimbangan jiwa
kita.

Entah anda ini seorang pejabat tinggi, direktor maupun pengusaha,
ketika dirantau anda tetap saja Mr Nobody atau sekedar nomor saja,
tetapi dikampung halaman sendiri kita dapat menghayati kembali makna
kedudukan sebagai adik, paman, keponakan, saudara ataupun anak.

Disitu kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih
sayang yang tulen bukan hanya sekedar basa-basi. Dengan tinggal
beberapa saat saja di desa, kita dapat menyadari kembali makna
sosial dari seorang tetangga, sahabat ataupun saudara, jadi bukan
hanya sekedar sebagai orang lain yang tinggal di seberang rumah atau
di samping meja kerjanya seperti yang dihayati di kota. Di kampung
halaman kita bisa mendapatkan kembali harkat dan nilai kemanusiaan
kita lagi.

Para perantau yang mengadu nasib di kota-kota maupun di luar negeri
pada hari Lebaran dapat bertemu dengan sanak saudara, keluarga,
serta kerabat di tempat kelahirannya. Rasa haru mewarnai ajang tali
silaturahmi di hari Idulfitri (Lebaran), karena mereka selama satu
tahun atau lebih berpisah; kini di hari yang mulia Idulfitri dapat
berkumpul, bercengkerama, bersendau gurau, serta melepas rindu antar
saudara dan kerabat.

Dari silaturahmi ini, timbullah rasa kebersamaan, kekeluargaan
persatuan dan kesatuan, sehingga dapat merasakan kembali hidup dalam
kerukunan, atau rukun dalam kehidupan. Pada saat mudik; kita bisa
menjaga silaturahim dengan kerabat di kampung halaman atau lebih
jauh lagi kita bakal tetap ingat kepada asal-muasal kita.

Bagi mereka yang tidak begitu bahagia sehingga tidak bisa mudik,
anda masih tetap bisa bersilaturahmi melalui surat, chatting, email,
video maupun telepon, sebab kata arti sebenarnya dari silahturahmi
adalah mendekatkan hubungan kekeluargaan dari segi aspek psikologis
atau rohani saja, tanpa kehadiran jasmani atau fisik. Beda silatu-
`rahim” sebab kata tersebut mengandung makna lebih dalam. Kata rahim
berarti menyertakan jasmani dan rohani.

02
Sep
08

Ramadhan Di Bekassie

Ramadhan di Bekasi, kalau saya rasakan sangat berbeda dari yang pernah saya alami di Jawa Timur, tepatnya di Blitar maupun di Ngawi, tempat saya besar. Tidak saya temukan lagi, kala menjelang adzan isya, semua orang sudah berada didepan rumah masing2, bersiap menjalankan jamaah tarawih bersama. Gadis-gadis dengan lambaian mukena, dominan putih, menjadi pemandangan yang menyejukkan di hati. Ditambah lagi dengan kondisi perut demikian kenyang, pasca berbuka puasa, sungguh menjadi pemadangan yang menarik untuk dikenang kembali. Kemudian kami berjalan beriringan menuju rumah salah seorang warga, yang dijadikan tempat untuk jamaah tarawih bersama. Oh ya, ini cerita di Blitar, lho ya, tepatnya ketika kami masih tingal di rumah kontrakan di Jalan Mawar, kalau nggak salah, pokoknya gang depan pak machput (Putri pertamanya, si Ana, temen SD aku), pemilik Tegel Brantas.  Mulai dari rumah pak Sujak, sampai ke timur, sepanjang gang, berpusat di satu tempat, kalau nggak salah di rumah pak alif. Aduh, banyak yang lupa ternyata.

Kalau di Ngawi, kebetulan nenekku memiliki rumah di daerah kauman. Otomatis, jikalau jelang shalat tarawih, semuanya berbondong-bondong meramaikan masjid. Tidak hanya dari kauman, tapi juga dri gang-gang sebelah, juga datang. Kalau yang laki-laki, bolehjadi sedari maghrib sudah di masjid, karena untuk berbuka puasa sekalipun, sudah tersedia ta’jil yang beragam.

Pokoknya, ramadhan, fokus keramaian adalah di masjid dan mushalla, dengan kegiatan utama, shalat isya dan tarawih jamaah. Di bekassie, utamanya di derah mustikasari, bojongmenteng dst, lebih banyak dominasi para orang tua dan anak-anak kecil, sementara mereka yang muda atau yang masih usia produktif, entah kemana menunaikan ibadah annual ramadhan ini. kata adhikku, karena jawa Timur adalah sabuk muslim kuat di Indonesia, karena saking banyaknya pesantren, makanaya wajar kalau ramadhan di Jawa Timur terasa lebih “Adhem”.

Selamat Menunaikan Ibadah Di Bulan Ramadhan.

13
Feb
06

Kulit itu …..

Wayang, memiliki catatan tak mengenakkan sebagai simbol pembawa sial bagi rezim yang memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan 1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

06
Feb
06

Iklan itu

Pada akhirnya seluruh biaya iklan (yang umumnya bejibun) akan ditanggung oleh konsumen melalui harga produk yang mereka bayar. Sebagai sang boss, apakah yang didapatkan konsumen sebagai timbal baliknya? Bila ada yang bilang harga produk akan jauh lebih murah dengan adanya iklan, sepertnya kita tidak bisa menelan ucapan tersebut bulat-bulat. Dalam prakteknya, tingkat efektivitas iklan tersebut harus lolos uji terlebih dahulu, artinya bisa saja kita membuat iklan yang bagus dan menarik perhatian tapi belum tentu tingkat penjualan menjadi meningkat. Semakin banyak iklan dalam bentuk tertentu, semakin kecil kesangkilan dari masing-masing iklan. Dari sisi proses, kita melihat sekian jumlah iklan dibuat berdasarkan konsep kreatifitas dan bukan kredibilitas produk. Adanya penghargaan untuk iklan, memicu semakin bertaburannya iklan dengan bandrol dana segunung, agar layak tampil dalam kompetisi tersebut, dan bukan untuk riset konsumen. Bukankah suatu iklan bisa sangkil asal pesan yang disampaikan, tidak memberikan harapan yang keliru terhadap konsumen. Kesangkilan dari iklan tidak hanya ditentukan oleh karyanya, tetapi juga unsur kejujuran dari isi iklan. Toh sebagai hakim, yang menentukan tercapainya tujuan iklan tetaplah konsumen.

Iklan komersial jamak didefinisikan sebagai suatu bentuk informasi dan pengiklan diterjemahan secara sederhana sebagai pihak yang memberi informasi tentang suatu produk kepada konsumen. Suatu study menemukan bahwa lebih dari setengah iklan televisi tidak berisi informasi apapun tentang produk yang diiklankan untuk konsumen, dan hanya setengah dari iklan majalah yang berisi informasi produk.

Alasan sederhana yang mendasari para kreator iklan untuk tidak memasukkan informasi objektif, adalah tugas utama mereka menjual atau memperkenalkan produk kepada calon pembeli yang potensial, sehingga informasi yang disampaikan hanya sebagai pendukung yang bahkan seringkali ditiadakan. Secara lebih singkat, penekanan lebih dilakukan pada cara menjual produk melalui iklan.

Pendapat lain mengejawantahkan iklan sebagai komunikasi antara penjual dan calon pembeli, yang berbeda dari bentuk komunikasi umumnya, karena dua hal: (1) iklan secara umum ditujukan untuk masyarakat secara luas berbeda dengan pesan untuk individu secara spesifik. (2) iklan cenderung membujuk sebagian audience untuk membeli produk yang dijual, melalui penciptaan dua hal, minat/keinginan terhadap produk yang dijual di dalam diri konsumen, dan kepercayaan di dalam diri konsumen bahwa ada produk yang ditujukan untuk memuaskan keinginan pembeli.

 

Social Effect of Advertising

1) Psychological Effects of Advertising

Periklanan telah dianugerahi kritik umum berupa seringnya iklan merendahkan selera publik dengan menyajikan iklan yang menjengkelkan dan secara estetika tidak menyenangkan. Agar efektif iklan lebih sering bersifat intusive, strident, and repetitive agar dapat dimengerti oleh pikiran yang paling sederhana. Awam memandangnya sebagai hal yang membosankan, tidak bermutu, menghina kecerdasan penonton, dan pandangan lebih lanjut mencomoohnya sebagai suatu penghamburan. Pandangan tidak mendidik dan hanya memamerkan suasana hedonis-materialistis dengan latarbelakang konsumerisme yang mengabaikan etika, juga melekat pada citra iklan.

2) Advertising and Waste

Iklan adalah suatu penghamburan karena lebih untuk membujuk orang untuk membeli tanpa meningkatkan manfaat yang didapat untuk konsumen. Saking minimnya informasi yang terkandung dalam iklan, seringkali membuat awam berpikir bahwasanya hal tersebut semestinya dapat disampaikan dengan cara yang lebih murah. Iklan juga bisa gagal menstimulasi untuk mengkonsumsi suatu produk dan konsumsi industri dapat meningkat walaupun dengan biaya iklan yang sedikit. Peningkatan konsumsi, pada umumnya memicu percepatan pertumbuhan industri yang merembet pada polusi lingkungan dan secara cepat menghabiskan sumberdaya tak terbaharui.

3) Advertising and Market Power

Kampanye iklan secara besar-besaran yang dilakukan perusahaan modern mengakibatkan mereka tidak dapat mencapai dan mempertahankan kekuatan monopoli terhadap pasar mereka. Banyak perusahaan besar mempunyai sumber keuangan untuk membuat kampanye iklan secara besar-besaran dan mahal dalam memperkenalkan produk mereka. Kampanye ini menciptakan kesetiaan konsumen terhadap merek perusahaan. Akibatnya perusahaan kecil tidak dapat menembus pasar karena mahalnya biaya iklan yang dibutuhkan untuk mendapatkan konsumen yang loyal. Semakin terkonsentrasi dan sedikitnya persaingan industri maka semakin tinggi iklan.

 

Penciptaan. John K. Galbraith mengungkapkan efek manipulatif iklan dalam menciptakan keinginan konsumen untuk menyerap hasil produk industri, dan memposisikannya sebagai tujuan utama. Ada dua jenis keinginan, yaitu keinginan yang mendasar seperti makanan dan rumah, serta keinganan individual atas barang yang memberikan perasaan pribadi atau kepuasan dalam memperolehnya. Keinginan yang bersifat fisik dapat dikelola, dikontrol dan diperluas dengan iklan, karena permintaan diciptakan oleh kebutuhan fisik dimana produsen berusaha memproduksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Produsen menciptakan permintaan baru dengan memanipulasi keinginan yang bersifat fisik melalui iklan yang bersifat persuasif. Sehingga terkadang konsumen menginginkan sesuatu yang sebenarnya mengikuti motivasi yang tidak berasal dari dirinya sendiri (ada sugesti). Untuk mempengaruhi tingkah laku konsumen mereka memanfaatkan faktor-faktor psikologis seperti status, gengsi, seks dsb.

Reputasi iklan dalam hal kebenaran, sepertinya masih meniti tingkat terbawah, saking seringnya iklan membohongi, menyesatkan, dan bahkan menipu publik sehingga dapat dikatakan tidak etis. Bahasa iklan yang sarat superlatif dan hiperbol, menjadikannya sulit dipercaya karena tidak mengatakan seluruh kebenaran dan mendiamkan sesuatu yang sebenarnya penting untuk diketahui. Sejak lahir, iklan sudah mengandung unsur promosi, dan konsumen, seharusnya juga di”cerahkan”, bahwasanya retorika tersebut tidak perlu dimengerti secara harfiah. Di sudut pandang yang lain, kita juga harus melihat, dunia periklanan telah menyumbang peran, dalam mengurangi angka pengangguran.

06
Feb
06

Apa kabar dunia!

La Parole a été donnée à l’homme pour déguiser sa pensée kata Talleyrand, Menteri luar negeri Prancis, setelah runtuhnya pemerintahan Napoleon. Menteri itu bilang: Bahasa diberikan kepada manusia untuk menyembunyikan pikirannya.lalu Fouche, Menteri kepolisian Prancis pada masa yang sama, juga punya ungkapan lain. Katanya, Les paroles sont faites pour cacher nos pensées, yang kalau diindonesiakan, Bahasa-bahasa dibuat untuk menyembunyikan pikiran-pikiran kita. Apapun yang melatarbelakangi mereka sampai melakukan lempar kata yang sedemikian, konon Talleyrand adalah jagoan intrik di lingkungan istana sehingga selalu melakukan bahasa untuk menjalankannya, yang terkadang akan bersinggungan dengan Fouche, yang jelas penggunaan bahasa dalam kehidupan manusia, telah menjadi semacam senjata. Tidak sekedar sarana mempertahankan hidup, tapi juga berkembang menjadi alat intimidasi. Bahasa digunakan dalam dua kepentingan yang saling bertolak belakang, sebagai sarana menyatakan pendapat, sekaligus untuk menyembunyikan pikiran. Di balik pikiran-pikiran itu, terdapat kepentingan-kepentingan yang harus dipertahankan.